Gelombang Tinggi

 Salat isya telah usai. Para jemaah rehat sejenak karena sebentar lagi majelis zikir akan dimulai. Tiba-tiba HP Ismet bergetar. Rupanya teman sekantornya yang menelepon. “Asalamualaikum,” kata Ismet membuka percakapan.

“Waalaikumsalam. Pak Ismet, saya sedang di kapal mau ke Lampung. Mohon bantuan doanya.”

“Memangnya kenapa?”

“Ombak di Selat Sunda tinggi sekali. Para penumpang sudah diperintahkan untuk memakai pelampung. Sekarang lagi pada rebutan pelampung. Saya takut terjadi apa-apa dengan kapal ini.”

“Oke, kebetulan saya lagi di musalla. Sebentar lagi majelis zikir akan dimulai. Nanti kami doakan.”

“Terima kasih. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Pembicaraan di atas terjadi Kamis malam pekan lalu. Saat itu ombak di Selat Sunda memang tinggi sekali, dan cipratannya sampai membasahi geladak kapal, sehingga tak heran bila awak kapal memerintahkan para penumpang memakai pelampung.

Saya tak bisa membayangkan kepanikan yang terjadi di kapal, khususnya di dek bawah, mengingat ada penumpang bus yang tetap di dalam bus. Apakah mereka tahu perintah pakai pelampung tersebut? Kalau pun tahu, mereka pasti tergopoh-gopoh turun dari bus untuk mencari pelampung, yang mungkin sudah habis diperebutkan penumpang lainnya.

Sejak pekan lalu arus penyeberangan Merak – Bakauheni menjadi tersendat. Bukan karena lonjakan penumpang dan kendaraan. Tapi otoritas pelabuhan melarang kapal-kapal kecil berlayar mengingat gelombang tinggi. Akibatnya, jumlah kapal yang berlayar berkurang. Waktu tempuhnya juga bertambah lama. Biasanya Merak-Bakauheni bisa ditempuh sekitar dua jam, kini menjadi tiga jam. Belum lagi waktu bongkar muatnya bertambah lama karena ombak tinggi membuat kapal sulit bersandar.

Media Indonesia, Rabu (2/1), menurunkan tulisan berisi imbauan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) agar kapal-kapal tidak berlayar antara 2-5 Januari karena tingginya gelombang laut di perairan Indonesia. Gelombang laut setinggi 3-4 meter diperkirakan terjadi di perairan barat Pantai Sumatera, Bengkulu, Lampung, barat daya Selat Sunda, perairan selatan Jawa, Bali, NTT, NTB, Laut Sawu, Laut Timor, Pontianak, Selat Karimata, Kepulauan Riau, dan Bangka Belitung.

Sementara gelombang laut setinggi 4-7 meter terjadi di Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Banda, Laut Kai dan Tanimbar, Arafura, Aru, dan Merauke.

Membaca berita tersebut saya jadi teringat kejadian yang menimpa temannya Ismet di atas. Padahal waktu itu belum ada imbauan BMG untuk tidak berlayar. Setelah keluar imbauan itu, masih adakah kapal yang berani berlayar di Selat Sunda, dan perairan lainnya?

La haula wala quwwata ila billahil aliyil azim. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah.

No Comments Yet

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar