Saya suka sekali dengan makhluk tuhan yang namanya ikan. Memeliharanya senang, makannya apalagi. Makanya saat diajak kakak saya, Tavip, mencari bibit ikan, tanpa berpikir dua kali saya langsung mengiyakan. Pergilah kami berdua ke Kalirejo, Lampung Tengah. Kebetulan di sana ada kerabat kami, Atmaja, yang sudah cukup lama merantau dan beranak pinak di sana.
Sebenarnya Atmaja punya empang di belakang rumahnya, yang memang diperuntukkan bagi konsumsi keluarga. Semula dia berencana mengambil bibit ikan dari empangnya untuk kami. Tapi karena kami ingin mencari bibit gurame, sedangkan yang dia punya bibit nila, maka kami pergi mencari bibit gurame ke petani.
Diantar Atmaja dan seorang penunjuk jalan, sampailah kami ke petani yang khusus membibitkan gurame. Hari sudah gelap dan azan magrib sudah berkumandang ketika kami tiba di empang, yang penjaganya sedang kerokan. Karena Atmaja sudah mereka kenal, sekalipun kerokan belum selesai, mereka bersedia masuk kolam untuk mengambil bibit. Harga yang disepakati Rp 1.000 per ekor.
Setelah selesai urusan di empang tersebut, kami kembali ke rumah Atmaja untuk salat magrib. Habis salat, kami berencana kembali ke Bandar Lampung. Tapi tuan rumah sudah keburu mengeluarkan nasi dan lauk pauk. Mau tak mau kami harus makan dulu sebelum pulang.
Nah, pengalaman makan kali ini cukup berkesan bagi saya. Bukan soal lauknya. Tapi tempat dan suasananya. Atmaja menempatkan nasi dan lauk pauk di sebuah karpet, yang biasanya menjadi tempat menonton tv di ruang tamu. Jadilah kami makan sambil lesehan dengan lauk kredok, telur mata sapi, dan tahu. Menunya sederhana, tapi suasananya akrab dan hangat. Melihat tuan rumah makan dengan lahap sambil duduk bersila, saya juga terbawa suasana ikut makan dengan lahap. Dalam hati saya bergumam, “Kalau ada ikan plus sambal, pasti lebih asyik lagi.”
Sampai di rumah, pengalaman makan di Kalirejo saya ceritakan kepada ibu. Dia berkomentar, “Begitulah kalau kita datang ke rumah saudara yang tempatnya jauh. Pasti disuruh makan dulu sebelum pulang.”
Pengalaman makan di rumah Atmaja masih berkesan hingga kini. Entah kapan bisa terulang lagi. Kalau ada libur dan waktu luang, saya ingin kembali ke sana untuk mencari bibit ikan lagi, dan, tentu saja, menikmati suasana makan lesehan yang nikmat.
No Comments Yet
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar
