Kick Andy di Metro TV edisi Kamis (15/5) menghadirkan tamu mantan Menteri Penerangan dan Ketua DPR/MPR Harmoko. Mengenakan setelan jas plus dasi dan peci, Harmoko terlihat segar di usianya yang sudah 70 tahun. Dia juga masih lincah dan tangkas bersilat lidah, seperti ketika masih menjabat dulu.
Dialog diawali dengan pertanyaan Andy Noya yang cukup menohok. “Setelah menghilang 10 tahun, kenapa Anda berani hadir di sini?”
Tak mau kalah dengan si penanya, Harmoko balas menjawab. “Selama ini saya sering melihat di Kick Andy Bung Andy ‘menendang’ para tamu, sekarang saya yang akan ‘menendang’ Bung Andy,” katanya disambut gelak tawa para hadirin.
Malam itu Harmoko diberondong dengan pertanyaan seputar keterlibatan dia dalam kejatuhan mantan Presiden Soeharto 10 tahun lalu. Dari jawaban dan penjelasannya, terlihat bahwa ingatan si Bung satu ini tentang kejadian bersejarah itu masih segar dan tajam.
Harmoko mengaku, dua hari sebelum Soeharto terbang ke Mesir, dalam kapasitas sebagai Ketua DPP Golkar, dia datang ke Cendana untuk meminta Soeharto tidak berangkat. Dia menyarankan agar Soeharto diwakili saja oleh Wakil Presiden atau salah seorang Menteri Koordinator.
Tapi Soeharto menampik usul tersebut. “Tidak bisa. Saya sendiri yang harus berangkat untuk menujukkan bahwa situasi dalam negeri tetap terkendali,” kata Harmoko menirukan ucapan Soeharto kala itu.
Saat Soeharto di Mesir, kata dia, terjadi kebuntuan politik akibat gencarnya tuntutan rakyat akan reformasi. Saat itu pula datang berbagai delegasi ke DPR yang meminta lembaga tinggi negara tersebut mengambil inisiatif untuk mengatasi kebuntuan politik.
Menyikapi hal tersebut, pimpinan DPR memanggil pimpinan fraksi-fraksi untuk berkonsultasi. Hasil konsultasi tersebut menyepakati untuk meminta Soeharto - dengan arif dan bijaksana – mundur dari jabatannya sebagai Presiden RI.
Tapi Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto menganggap sikap resmi DPR, yang meminta Soeharto mundur, sebagai pernyataan pribadi Harmoko.
Ketika perang pernyataan antara Wiranto dan DPR itu ditanyakan Andy Noya, dengan santai Harmoko menjawab, “Tanyakan saja sama Pak Wiranto.”
Tak mau kalah dengan tokoh-tokoh lain, seperti BJ Habibie dan Wiranto, yang telah menulis buku berkaitan dengan lengsernya Soeharto, Harmoko juga telah membukukan berbagai kesaksiannya seputar kejatuhan Soeharto. Malam itu, buku yang ditulis Firdaus Syam tersebut dibagikan kepada para hadirin.
Selain masalah politik, Andy Noya juga menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi, seperti aktivitas Harmoko setelah pensiun. Selama 10 tahun terakhir, Harmoko masih aktif menulis di Pos Kota, serta melakukan kegiatan safari ke pesantren-pesantren.
“Safari itu sudah saya lakukan sejak belum menjadi menteri. Dari sana saya mendapat banyak ilmu, seperti kalau mau panjang umur harus banyak zikir, silaturrahmi, dan sedekah,” dia menjelaskan.
Harmoko juga menunjukkan jiwa besarnya atas berbagai pendapat, kritik, dan sinisme terhadap dirinya, khususnya dari pihak yang mengecam sikapnya yang meninggalkan Golkar dan menjadi pembina sebuah parpol baru.
“Saya ucapkan terima kasih atas kritik dan sinisme terhadap diri saya,” katanya.
Mengenai kepanjangan namanya menjadi “Hari-hari omong kosong”, dia juga menanggapinya dengan santai. “Sudah lama saya tahu itu. Tapi itu juga bisa berarti hari-hari omong koperasi, atau hari-hari omong konkret.”
Bila di awal acara dia berseloroh mau “menendang” Andy Noya, di akhir acara Harmoko memberi Andy Noya sebuah kejutan. “Biasanya tamu-tamu Kick Andy diberi karikatur, sekarang saya yang mau membuat karikatur untuk Andy Noya,” katanya.
Ternyata mantan karikaturis dengan inisial “Mok” ini masih lincah dan terampil membuat sketsa karikatur. Tanpa banyak membuang waktu, dia berhasil menyelesaikan karikatur seorang pria berkaca mata dan berambut kribo.
Di bawah karikatur itu dia membubuhkan inisial “Mok’ dan caption “Menunggu gajian”. Karikatur itu lalu dia serahkan dan disambut dengan suka cita oleh Andy Noya.
Perjalanan hidup Harmoko memang penuh warna. Pernah menjadi karikaturis, wartawan, dan Ketua PWI, dia dipercaya Soeharto menjadi Menteri Penerangan tiga periode, lalu memimpin Golkar. Puncak kariernya berakhir di kursi Ketua DPR/MPR, dan lengser seiring dengan lengsernya Soeharto.
Meski telah manula dan tak lagi pegang jabatan apa pun, dia masih terampil berkomunikasi dan bersilat lidah. Ilmu seperti ini – yang tidak didapat di bangku kuliah - berhasil membuat seorang Harmoko yang bukan sarjana masuk dalam jajaran elit politik negeri ini.
12 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar

Permisi, numpang pasang foto
KALO MAU TRAFFIC BLOG, AYO LAH SUBMIT KE SITUS: “Worldspop.com”
(BISA INCREASE BLOG TRAFFIC)
wah saya ngga nonton euy, sepertinya seru tuh acaranya, minggu masih ada tayangan ulangnya kan?
ahuahauahau
seru banget.. gw aja nonton sambil ketawa²
pande banget bersilat lidah tuh bapak
haha…oportunis sejati. “bos”-nya udh mangkat, baru turun gunung lagi.
hihihi namanya juga usaha.. tar lagi kan pemilu
namanya aja mantan wartawan….pasti pinter lahhh memutar balikkan fakta…
Tar sore liat ah
Bisa jadi dia ngibul, bisa juga dia jujur. Hati-hati lho, jangan berprasangka buruk…..
Hehehehe ini orang licin banget…tapi semua orang sudah tahu kadar kualitasnya seperti apa…
your yime its up mr Harmoko
satu lagi brutus bicara, mana brutus lainnya