Zona 80 di Metro TV kembali menghadirkan musik dangdut. Setelah belum lama berselang menampilkan Orkes Moral Pancaran Sinar Petromak (OM PSP), kali ini yang dihadirkan adalah si Raja Dangdut Rhoma Irama beserta Soneta dan Rita Sugiarto.
Dalam acara yang ditayangkan Metro TV, Minggu (18/5), Bang Haji – panggilan akrab Rhoma – menyanyikan 5 lagu. Sebagai tembang pembuka, dia menyanyikan Judi.
Saat sesi bincang-bincang dengan Joe dan Windy Wulandari, terungkap bahwa lagu Judi tersebut pernah dicekal pada dekade 80-an. Menurut pengakuan Rhoma, lagu itu diciptakan sebagai bentuk perlawanan atas maraknya Porkas, judi dengan kedok penggalangan dana untuk olahraga.
Pemerintah lalu menghapus Porkas. Namun sebagai gantinya diadakan SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah), yang setali tiga uang dengan Porkas. “Ternyata itu (SDSB) judi juga,” katanya.
Bila saat Porkas marak Rhoma membuat lagu Judi, di era SDSB dia membuat lagu Sumbangan.
Acara bincang-bincang itu tidak hanya membahas lagu-lagu karya Rhoma Irama saja. Tapi juga membahas hal-hal yang bersifat pribadi. Nama, misalnya. Joe mengkonfirmasi kepanjangan Soneta sebagai Sondong Neglasari dan Tasikmalaya, mengingat Rhoma berasal dari Tasikmalaya.
Namun hal itu dibantah Rhoma. “Soneta itu bentuk prosa sastra. Bukannya Sondong Neglasari Tasikamalaya,” ucapnya.
Mengenai nama Rhoma Irama, dia mengisahkan bahwa dirinya terlahir sebagai Raden Irama. Setelah aktif bermusik, namanya menjadi Oma Irama. Dan setelah naik haji, berganti menjadi Rhoma Irama.
Kenapa Rhoma Irama? “Saya mau menyembunyikan Haji dan Raden. Di akte (kelahiran), nama saya Raden Irama.”
Hal lain yang dikonfirmasikan ke Rhoma adalah kabar dia pernah membeli gitarnya Ritchie Blackmore, mantan gitaris Deep Purple dan Rainbow. Hal ini juga dia bantah. ”Yang benar adalah saya membeli sample-nya di satu toko di Hong Kong,” tuturnya.
Semula pemilik toko tidak mau menjual gitar tersebut. Tapi Rhoma tak putus asa, dan terus merengek selama tiga hari agar diberi kesempatan membelinya. Pada hari ketiga, dia kembali datang ke toko tersebut, dan kebetulan si pemilik toko lagi membaca Asia Week yang menurunkan tulisan tentang “Rhoma Irama, Southeast Asia Superstar.”
Begitu tahu kalau superstar dari Asia Tenggara tersebut ada di hadapannya, si pemilik toko langsung berubah pikiran. “Dia langsung telepon pabrik pembuat gitar tersebut di AS, dan pihak pabrik mengizinkan untuk menjualnya,” Rhoma menjelaskan.
Bincang-bincang dengan Rhoma diselingi dengan melihat tayangan salah satu film yang dia bintangi, yang berjudul Badai di Awal Bahagia. Harus diakui, pada dekade 80-an film-film Rhoma Irama terbilang sukses dalam menjaring penonton.
Ketilka ditanya resep keberhasilan dalam membuat film yang box office, pria yang juga seorang mubaligh tersebut mengaku film-filmnya dibuat apa adanya dengan mengangkat realita kehidupan sehari-hari.
Dari sekian banyak film yang dia bintangi, Rhoma mengakui bahwa Satria Bergitar sebagai film yang paling berkesan. “Film itu representasi Rhoma Irama sebagai seniman dan mubaligh,” ungkapnya.
Setelah Judi, Rhoma juga mendendangkan Sahabat dan Adu Domba. Lalu dilanjutkan dengan berduet bersama Rita Sugiarto – mantan pasangan duetnya – menyanyikan Kerinduan.
Ada alasan tersendiri kenapa dia berduet dengan penyanyi wanita. “Untuk bisa mengekspresikan lagu-lagu cinta butuh nyanyi secara duet,” akunya.
Rita sendiri mengaku sebelum menjadi pasangan duet Rhoma, dia sempat membawakan lagu-lagu pop. Ketertarikannya kepada dangdut, antara lain karena pengaruh lagu-lagu Rhoma Irama. “Dulu ada lagu Berkelana yang sangat berkesan buat saya.”
Pribadi Rhoma dinilainya sebagai figur yang sangat kritis. “Saya pasangan duet yang paling banyak dimarahin, tapi untuk yang positif,” katanya. Bukan hanya dengan Rita, Rhoma juga pernah berduet dengan Elvi Sukaesih, Camelia Malik, dan Nurhalimah.
Selain Rita Sugiarto, Zona 80 juga menghadirkan Mucle, komedian yang kerap menirukan figur Rhoma, sekaligus membawakan lagu-lagunya.
Apa komentar Rhoma atas duplikatnya itu? “Alhamdulillah, itu indikasi mereka suka saya.”
Acara malam itu, yang dihadiri para alumni SMA 53, SMA 34, dan SPK CIpto Mangunkusumo, diakhiri dengan tembang pamungkas, Malam Terakhir, yang kembali dinyanyikan secara berduet oleh Rhoma dan Rita.
Sebelum menyanyikan lagu tersebut, Joe mempersilakan sang Raja Dangdut memberikan kata penutup. “Harapan saya, Zona 80 bisa memotivasi membangun dangdut yang positif konstruktif,” kata Rhoma.
Kalau dangdut yang negatif destruktif seperti apa, Bang Haji?
1 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar

sungguh arif sekali hatimu banghaji…. aku salut dengan cara bang haji untuk merubah dari kemungkaran untuk menjadi kebaikan dengan cara itu.. yaitu dengan cara lengalunkan lagu-lagu… yang bernafaskan islam…dengan lirik teguran orang main judi, orang main zina, dan akibat buruknya… semoga Allah senantiasa selalu bersama kita……