Iklannya sudah tayang di tv sejak harga BBM belum dinaikkan. Hingga kini iklan itu masih terus ditayangkan. Entah berapa dana yang dikeluarkan pemerintah untuk membuat iklan itu.
Yang jadi “bintang iklan” para pejabat tinggi, seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Perdagangan Mari Pangestu, Menko Kesra Aburizal Bakrie, dan Juru Bicara Presiden Andi Malarangeng.
Mereka mencoba berkomunikasi dan meminta masyarakat memaklumi kenaikan harga BBM. Pakar komunikasi Effendi Gazali menilai, pesan yang disampaikan tak jelas. Sebab komunikasi politik tak bisa mendadak dengan iklan seperti itu.
“Itu iklan paling konyol yang pernah saya lihat. Sama sekali tidak jelas tujuannya. Lebih jelas iklan jamu,” kata Effendi, seperti dikutip Kontan, Senin (26/5).
Lain di tv, lain pula iklan di koran. Setelah iklan WIranto yang mengkritik kebijakan menaikkan harga BBM, kini ada iklan tandingan yang dibuat oleh “Masyarakat Citra” (Cinta Tanah Air & Rakyat), seperti dimuat Republika, Senin (26/5).
Iklan itu berjudul “Bangkitlah Wahai Bangsaku”. Dalam iklan setengah halaman dengan latar belakang laut di kala senja itu, tertera kata-kata sebagai berikut. “Ini bukan soal janji tetapi ini soal kesejahteraan bagi rakyat kecil di republik ini. Untuk mampu memahami kondisi global dan kondisi nasional perlu tindakan yang tepat.
Memang kritik merupakan hak, tetapi bersama-sama mencari solusi untuk membangun bangsa itu lebih utama buat menenteramkan rakyat agar tidak terbakar emosinya, menempatkan kepentingan bangsa di atas urusan sekedar cari popularitas belaka, menjaga kohesi nasional agar tidak terjadi disintegrasi bangsa.”
Dari materinya, terlihat bahwa iklan tersebut merupakan bantahan bahwa penguasa pernah membuat “janji”, seperti yang dipersoalkan di iklan Wiranto.
Seperti iklan Wiranto, iklan ini juga menyinggung soal kesejahteraan rakyat kecil. Lagi-lagi nasib rakyat kecil jadi komoditas politik.
Sementara di bagian bawah tertulis dengan huruf cetak tebal: “Rasional demi masa depan Bangsa Indonesia yang lebih baik!”
Siapa yang rasional dan tidak rasional? Biarkan rakyat yang menilainya!
No Comments Yet
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar
