Gus Pur jadi Gus Tur

Orangnya  tak berubah. Tapi nama panggungnya sudah ganti. Kalau dulu  Gus Pur, sekarang  berubah  jadi  Gus Tur.  Kenapa? “Saya kan  suka jalan-jalan ke daerah (tour).  Jadi sekarang menjadi Gus Tur,” kata  dr Handoyo alias Gus Tur dalam acara Empat Mata di Trans 7, Rabu (11/6).

“Kalau rumahnya sering dipindah-pindah, itu namanya Gusur,” kata Tukul Arwana, host Empat Mata, meledek  perubahan nama panggung tersebut. 

Tukul kembali bertanya, “Pernah nggak dimarahi Gus Dur (Abdurrahman Wahid) karena menirukan gayanya?”

Gus Tur mengaku dirinya pengagum Gus Dur, dan tidak pernah dimarahi Gus Dur karena meniru  gaya dan cara bicara  mantan presiden tersebut. “Kata Gus Dur, Pak Handoyo ini  iklan gratis buat saya,” jelasnya.

Meski sudah terkenal sebagai  tokoh yang   memparodikan Gus Dur, Handoyo  masih tetap berpraktek sebagai dokter.  Namun popularitasnya  tidak otomatis  mendongkrak  jumlah pasien.

“Jumlah pasien tetap. Tapi  banyak  yang minta   foto bersama setelah berobat,” katanya.

Malam itu, Gus Tur tidak datang sendiri. Dia  didampingi    Jarwo Kwat (JK),  rekannya  di  Republik Mimpi, yang  memparodikan tokoh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Kepada mereka  berdua, Tukul mengajukan pertanyaan berkaitan dengan pemilihan presiden. “Apa ada rencana berduet  tahun 2009 nanti?”

‘Berduet?  Memangnya  kita Trio  Macan?” kata  JK.

Ketika pertanyaan yang sama diajukan  Tukul ke  Gus Tur dengan suara yang cukup keras, JK menegur Tukul. “Anda  jangan bicara keras  sama dia. Dia massanya banyak!”  katanya mengingatkan. 

Malam itu Empat Mata mengambil tema  tentang   hal-hal yang palsu.  Selain tokoh palsu, Gus Tur dan JK,  tamu lainnya  adalah  Syahrini, penyanyi pendatang baru yang suka memakai  rambut dan kuku palsu.  Selain itu, hadir pula Avi, pembuat makanan palsu,  dan  Sugeng, pembuat  kaki palsu.

Empat Mata  malam itu membuktikan bahwa sesuatu yang  palsu ternyata  menarik  untuk diperbincangkan dan ditertawakan. Inilah berkah reformasi. Menjadi tokoh palsu dengan memparodikan   pejabat tinggi tidak  sampai mengundang murka si pejabat.       Coba  kalau di masa orde baru, si peniru bisa dicekal tampil dimana-mana!

No Comments Yet

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar