Bini Muda Wakil Rakyat

Ketika  tengah menikmati   hidangan di  sebuah resepsi pernikahan, hp saya  berbunyi. Sebuah sms masuk dari Susi,   teman yang sudah lama  tak  pernah kontak.  “Apa kabar?”

“Kabar baik.  Gimana kabarnya?”  balas saya.

Setelah itu  tak  ada  lagi sms balasan darinya.  Mau menelepon,  suasananya bising sekali. Usai  menghadiri  resepsi tersebut, saya coba  menelepon. Tapi tak diangkat.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, masuk lagi sebuah sms.  “Sori tadi sy  sholat n  tlp lagi  dong,” pintanya.   

Sampai di rumah,  saya coba telepon kembali.   Kali ini diangkat.  Sebagaimana biasa,  pembicaraan dimulai  dengan berbasa-basi,  saling menanyakan  kabar  masing-masing. 

 Selama ini saya mengenal  Susi sebagai janda berusia 40-an tahun,  memiliki  tiga orang  anak dan seorang cucu.  Di tengah pembicaraan, saya  mendengar suara anak kecil di  telepon. Spontan saya bertanya, “Itu cucu kamu?”

“Bukan, ini anak saya.  Perempuan,  baru  16 bulan.”

“Lah,  kapan kawinnya, kok sudah punya  anak lagi?”

Lalu berceritalah dia  tentang  pernikahannya. Ternyata sekitar tiga tahun lalu, dia menikah dengan seorang politisi top, wakil rakyat dari sebuah partai besar. Dia  sudah kenal lama  dengan politisi tersebut.  Kebetulan pula  dia  simpatisan  partainya politisi itu, dan pernah aktif meski  baru sebatas  level ranting di kecamatan.

Di masa orde baru,  politisi tersebut bernaung di  bawah  rimbunnya  beringin,  dan pernah pula  menjadi  ketua organisasi pemuda. Setelah  reformasi, dia nyeberang ke  sebuah partai,  yang pernah menjadi pemenang pemilu dan dipimpin seorang mantan presiden. Rumah tangga  pria ini cukup harmonis.  Sebelum menikahi  Susi,  pria itu  sudah beristri dan mempunyai tiga orang anak.

Menurut pengakuan Susi,   semasa masih  menjanda, politisi tersebut  sudah menyatakan cintanya, dan bersedia  menikahinya. Bahkan dia  berencana  membelikan rumah, agar  mereka  mudah  bertemu.

“Kenapa  kamu mau  jadi istri mudanya?” tanya  saya dengan nada menyelidik.

Kembali dia menceritakan perjalanan hidupnya.  Ternyata  dia berhutang budi kepada  politisi itu.  Suatu waktu,  dia  pernah mencoba berbisnis  kayu  di Kalimantan. Alih-alih  menuai laba, dia malah  ditipu rekan bisnisnya. Melayanglah uang ratusan juta. Sementara dia butuh uang untuk  memasukkan   anak bungsunya ke SMP. 

Sudah  ke sana ke mari  cari pinjaman, tapi tak berhasil.  Saat mohon petunjuk kepada Tuhan,    dia mendapat  ilham  untuk  membuka buku catatan berisikan nomor-nomor telepon. Ketemulah nomor telepon    politisi tersebut. 

Singkat cerita,  dia menghubunginya,  dan  politisi itu  bersedia membantu. Bukan cuma sekali bantuan diberikan, tapi  beberapa kali. Karena sudah banyak berhutang budi, akhirnya dia tak kuasa menolak ajakan untuk menikah. Dan akhirnya Susi menjadi  istri muda politisi itu.

“Berapa minggu sekali kamu ketemu dengannya?”

“Kalau telepon hampir tiap hari.  Tapi ketemunya nggak tentu. Ini sudah tujuh bulan dia nggak datang.”

Rupanya  sang politisi lagi sibuk berat.  Apalagi  menjelang pemilu, kesibukannya  makin bertambah, sehingga  jarang  mengunjungi  ”kantor cabang”.

Sejauh ini  rumah tangganya dengan istri pertama masih harmonis. Entah di tahun-tahun mendatang kalau istri tua sudah tahu dirinya dimadu.       

1 Komentar

  1. mantab mennn…………………!!!!


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar