Februari 2002. Saat itu Jakarta hampir tenggelam dilanda banjir. Presiden Megawati Soekarnoputri meninjau beberapa lokasi banjir dengan didampingi para menteri dan pejabat terkait.
Dengan mengenakan sepatu boot, Mega naik truk bak terbuka. Truk melaju dengan mantap menerjang genangan air. Di samping sebelah kiri, seorang pria mengenakan seragam TNI Angkatan Darat, dan memakai baret merah, bergelantungan dengan gagah. Sorot matanya tajam, penuh percaya diri.
Di pundak pria tersebut tersemat tiga melati. Dia adalah Kolonel TNI Pramono Edhie Wibowo. Saat itu Pramono bertugas sebagai ajudan Presiden Megawati.
Setelah Mega lengser pada 2004, posisi ajudan presiden juga diganti. Pramono kembali ke Korps Baret Merah sebagai Wakil Komandan Kopassus. Pangkatnya pun naik menjadi Brigadir Jenderal (Brigjen).
Saat terjadi rotasi perwira tinggi beberapa tahun kemudian, dia dipromosikan menjadi Kasdam IV Diponegoro.
Karier Pramono nampaknya tak bisa jauh dari Korps Baret Merah. Hari ini, Selasa (1/7), ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini dilantik sebagai Komandan Kopassus, menggantikan Mayjen TNI Soenarko, yang akan menjabat Pangdam Iskandar Muda.
Prestasi Pramono menyamai ayahnya, Letjen TNI Sarwo Edhie Wibowo. Pada dekade 60-an, Sarwo dipercaya memimpin Korps Baret Merah, yang saat itu bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Sarwo Edhie meninggalkan nama harum di Korps Baret Merah karena di jamannya RPKAD turut berperan menumpas Gerakan 30 September.
Ini sebuah kebanggaan tersendiri bagi keluarga Sarwo Edhie. Dua generasi dipercaya negara memimpin pasukan elit TNI Angkatan Darat. Sementara menantunya, Susilo Bambang Yudhoyono, dipilih rakyat sebagai Presiden RI.
Akankah karier Pramono terus meroket hingga menjadi KSAD dan Panglima TNI?
No Comments Yet
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar
