Teladan M. Natsir

Bulan ini  nama Muhammad Natsir  menjadi buah bibir di mana-mana. Itu semua berkaitan dengan peringatan  100 tahun  mantan Perdana Menteri dan Menteri Penerangan tersebut. Diskusi  dan seminar  diselenggarakan untuk mengenang politisi muslim yang cerdas dan santun dalam  berpolitik itu. Bahkan sebuah majalah berita  membuat laporan  khusus “100 Tahun M. Natsir”.

Selasa (15/7), Mahkamah Konstitusi   menyelenggarakan sebuah diskusi bertema “Kedudukan M. Natsir  dalam Sejarah NKRI”. Dalam sambutannya,    Wakil Presiden Jusuf Kalla  menilai sosok  Natsir  sebagai  figur langka  yang  sederhana,  cerdas, santun, dan mampu menjaga silaturrahmi  dengan kawan maupun lawan politik. Hal yang terakhir itu  yang sulit ditiru  para politisi saat ini.

Di masa jayanya, Natsir  biasa  berdebat   sengit  dengan lawan-lawan politiknya, entah itu dari kalangan   nasionalis, sosialis, maupun komunis. Tapi, usai berdebat, mereka kembali akrab,  ngopi bareng,    dan  melupakan perdebatan panas di ruang rapat. 

Jadi, perbedaan prinsip dan pandangan politik tidak sampai  memutuskan silaturrahmi. Inilah teladan seorang Natsir yang sulit ditiru  politisi  sekarang. Bahkan Jusuf Kalla  menyayangkan para mantan presiden yang tidak mau   meneladani  Natsir.

Menurut  dia, Indonesia punya  enam presiden yang tidak saling sapa.  Saat naik ke tampuk kekuasaan, Soeharto  tak menyapa   Soekarno.  Setelah lengser, dia juga tak menyapa BJ Habibie. Hal yang sama juga terjadi antara Habibie dan Gus Dur,  Gus Dur dengan Megawati, dan Megawati dengan SBY.

Entahlah, mungkin bagi mereka  sosok Natsir tak terlalu penting untuk  dikenang, apalagi diteladani. Atau memang mereka  punya gengsi    dan   ego yang terlalu tinggi, sehingga merasa  gengsinya jatuh bila  membuka komunikasi dengan penggantinya?

Semoga SBY dan presiden-presiden berikutnya  tidak lagi  terjebak  dalam kebuntuan komunikasi dengan para penggantinya!

3 Komentar

  1. sayan suka membaca artikel anda, dari pada membaca iklan politik, para pemburu kekuasan atas nama rakyat

  2. Berbeda pendapat boleh, tetapi tetap saling menghargai dan menghormati, tetap berteman dan bersahabat, apalagi hanya untuk menetapkan jalan yang digunakan dalam mencapai tujuan bersama, negeri bersatu, aman, sejahtera adil dan makmur. Memang ada berbagai jalan ke Roma, kata pepatah lama.

  3. dalam pandangan saya, sosok pemimpin seperti M.Natsir dan Hatta jarang sekali ditemukan. bahkan para pemimpin yang telah memimpin negeri ini di masa kampanye atau pilres justru saling berdebat dan menyalahkan. pun negeri ini membutuhkan pemimpin yang legowo, mengerti persoalan masyarakat. serta kritis menyikapi seluruh persoalan yang mengelayuti negeri ini. ironis, apabila nasib rakyat miris dan menyedihkan. bahkan disana-sini masih kita temukan kemiskinan dan kesenjangan sosial. salah satu sikap natsir yang paling bijaksana adalah ia mampu mempertahankan idealisnya. bahkan bisa dikatakan m. natsir merupakan tokoh yang paling disegani oleh lawan-lawan politiknya. bagi beliau, mencurahkan seluruh pemikiran bagi negara dan demi kemaslahatan masyarakat, beliau justru bekerja keras. beliau sosok pemimpin yang benar-benar mengayomi, melayani. yang terpenting, berdialog dan berdiskusi dengan masyarakat. dan tanyakan apa yang diinginkan oleh masyarakat. semoga lima tahun kedepan kita temukan pemimpin seperti m.natsir.

    mahasiswi sastra inggris, Universitas Andalas, Padang, Sum-bar


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar