Enak Dimakan tapi Sulit Dijual

Dagingnya gurih. Digoreng enak, dipindang apalagi! Tapi sayang  pemasarannya  tidak segurih dagingnya.

Itu  adalah keluhan para petani ikan yang membudidayakan ikan patin di  Desa Cimaragas, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Sebelumnya, para petani yang tergabung dalam kelompok tani “Maju Makmur” mengembangkan   mujair, ikan emas,  tawes, dan gurame.  Dari hasil diskusi kelompok,   ada upaya   untuk mengganti  ikan-ikan tersebut dengan jenis patin. Pertimbangannya, waktu itu mereka mendapatkan  informasi  jenis ikan patin mudah besar dan cepat dijual.

“Ternyata,  saat menjelang panen sekarang,   kami sulit   untuk menjual patin. Kelompok sudah  berusaha menawarkan ke Banjar, Ciamis,  sampai ke Tasikmalaya. Namun, bandar   ikan di daerah    Priangan Timur belum ada yang berani  untuk menampung  ikan patin dalam jumlah banyak,” kata  Sekretaris ”Maju  Makmur”,  Ninding, seperti dikutip  Pikiran Rakyat, Jumat  (18/7).

Sementara petani  patin lainnya, Engkus,  menyatakan ikan hasil budi dayanya  sudah dijual ke pasar lokal. “Mereka mau  menampung   ikan kami karena jumlahnya  tidak banyak.   Waktu itu kolam saya  kekeringan  dan ikannya  dijual kurang lebih  54 kg,” tuturnya.

Menurut Engkus, bandar  lokal sulit  menyerap patin  dalam jumlah besar. Apalagi, sejauh ini,  ikan patin belum populer  di daerah Priangan Timur.

“Kalau pasarnya jelas, petani sebenarnya  senang budidaya patin karena cepat  besar,”  ucapnya.

Selera  manusia  memang tidak bisa diubah  dengan drastis.  Nampaknya  masyarakat  yang menjadi konsumen ikan air tawar di wilayah Priangan Timur, yang meliputi Ciamis, Banjar dan Tasikmalaya,   masih  menggemari  ikan yang  sudah  mereka  kenal sejak dulu, seperti ikan  emas, gurame, dan mujair.  

Bagi petani,  membudidayakan patin  punya daya tarik tersendiri  karena  ikan tersebut cepat besar. Sayang, pasar  belum bisa menyerap  produk mereka. 

Hal ini perlu  menjadi perhatian Dinas Perikanan setempat  untuk melakukan edukasi konsumen, sekaligus membantu  pemasaran ikan patin, khususnya di pasar lokal.

Bila perlu,  ikan patin menjadi menu utama pada  acara-acara yang diadakan  Pak Camat atau Pak Bupati.  Mudah-mudahan dengan melihat pimpinannya  mengonsumsi  ikan patin,   masyarakat juga  akan tergerak untuk menggemarinya. Semoga!

1 Komentar

  1. waduh. padahal kalau di sumatera utara itu makanannya para raja-raja zaman dulu loh. sudah coba dijual ke medan belum?


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.