Sudah Tumpaskah Terorisme di Indonesia?

Judul buku: Medan Tempur Kedua: Kisah Panjang yang Berujung pada Peristiwa Bom Bali II

Penulis: Ken Conboy

Penerbit:  Pustaka Primatama, 2008

Tebal: XII + 274 halaman

 

Ketika terjadi  serangkaian ledakan, mulai dari   pengeboman sejumlah gereja di Medan,   bom malam Natal,  hingga  pengeboman Kedubes Filipina,  masih banyak   pihak yang menyangsikan adanya  terorisme di Indonesia.  Bahkan ada pejabat tinggi  yang bersikukuh   bahwa di Indonesia   tidak ada  teroris.

Banyak pula pengamat yang berteori macam-macam. Mulai dari  teori konspirasi,  balas dendam akibat  konflik Poso dan Ambon,  dan ada pula yang menuding  ulah militer. Ketika terjadi bom Medan, misalnya, pihak kepolisian malah menuduh  pelakunya para provokator.

Menurut penulis buku ini, Ken Conboy, bom Medan adalah   aksi pertama Jemaah Islamiyah (JI)  yang mengantar organisasi tersebut  masuk  ke  dunia terorisme.

Berdasarkan wawancaranya  dengan  pelaku bom Medan,  terkuak informasi adanya rencana  menjadikan Medan sebagai arena jihad kedua setelah Ambon (hal 117).

Usaha JI tersebut  tidak mencapai hasil.  Jauh dari   memicu balas dendam dan pertikaian antaragama,   bom tersebut  malah membuat masyarakat Medan  makin erat dan menjauhi kekerasan. Hanya sedikit yang mengaitkannya   dengan Ambon atau  ekstremis  agama. Anggapan yang paling sering diungkapkan, hal itu dilakukan oleh  musuh politik Presiden Abdurrahman Wahid,  yang berusaha  menunjukkan  ketidakmampuan presiden  menjaga stabilitas.

Setelah bom Medan,    aksi kedua  JI di Indonesia  adalah  pengeboman Kedubes Filipina di Jakarta. Motifnya: balas dendam atas  tindakan pemerintah Filipina menghancurkan   basis MILF (Front Pembebasan Islam Moro)  di Filipina selatan.

Kenapa Kedubes Filipina di Jakarta   yang jadi sasaran?

Ken Conboy mengungkapkan  tiga alasannya.   Pertama,  JI memiliki jaringan   besar dan terus berkembang  di Jawa, termasuk Jakarta.

Kedua,    diperuntukkan bagi   para militan  di Ambon,  yang telah  mengetahui sumber  suplai  bahan kimia.

Ketiga,    sejak awal 1999, telah terjadi   serangkaian  bom di Jakarta, dan pihak berwenang   tidak bisa menyelesaikan kasus tersebut (hal 119).

Bom yang  nyaris  menewaskan Duta Besar Filipina   Leonides Caday, dinilai Hambali, aktor intelektual serangan tersebut,  sebagai “sempurna”. Sebab, secara simbolik serangan terhadap   Manila  sangat berarti.

Selain itu,  JI telah  membuktikan kemampuannya  melakukan operasi terorisme penting. Dan, yang terpenting,  JI lolos  tanpa ketahuan.

Sama seperti bom Medan,  banyak pihak  yang masih meraba-raba siapa  sebenarnya   pelaku bom  Kedubes Filipina.  Ada yang  menduga  dilakukan separatis  Moro.  Ada juga yang berpendapat sebagai   urusan pribadi  Dubes Leonides (hal  126).

Setelah bom Kedubes Filipina,   ada beberapa aksi  kekerasan lainnya, seperti bom BEJ (Bursa Efek Jakarta)  pada September 2000. Namun yang  terbilang besar, baik dampak maupun jumlah korbannya, adalah  pengeboman yang dilakukan   pada malam Natal 2000. 

Bom  meledak di  38 lokasi di  11 kota, menewaskan   19 orang  dan 120 orang luka-luka.  Jumlah korban  bisa  makin bertambah   mengingat   ada bom  yang gagal  meledak.

Kala itu  jati diri  JI   sebagai pelaku serangan bom tersebut  masih belum terkuak.  Bahkan  para pengamat mencurigai militer sebagai  pelakunya.  Versi pengamat, militer  melakukan itu untuk  mempermalukan presiden terpilih,  akibat intrik politik (hal 137).

Bila bom Kedubes Filipina  dianggap   berhasil,   beda halnya dengan bom malam Natal.  JI, menurut Ken Conboy,  menyimpulkan serangan malam Natal  mengalami kegagalan.  Sebab tidak  berhasil menumbuhkan  ketegangan komunal.

Lebih jauh Conboy menilai, dampak dari  bom malam Natal  membuat JI berubah   dari organisasi  jihad regional, dan meneruskan transformasinya menjadi  organisasi teroris  internasional, walaupun  tidak berarti  akan  mengabaikan sasaran    domestik di masing-masing negara.

Jati diri  JI sedikit demi sedikit   mulai terkuak setelah  aparat  keamanan berhasil   menangkap pelaku  peledakan Atrium Senen, Jakarta Pusat.

Dari hasil interogasi, terungkap adanya  hubungan antara  bom Atrium, bom malam Natal,  dan usaha pembunuhan Dubes Filipina.

Jika serangkaian  bom yang dimulai dari  bom Medan, bom Kedubes Filipina,    bom malam Natal, dan bom Atrium, bisa dibilang  sebagai kiprah awal JI,  maka berbagai    aksi yang dilakukan   pascaperistiwa  11 September di AS merupakan    medan tempur kedua di Asia Tenggara.

Berbagai alternatif   serangan menjadi  pilihan. Antara lain, serangan pada  fasilitas  Exxon Mobil di Aceh,  menyerang tambang  emas milik AS di Sumbawa,  dan  menyerang  tempat-tempat  kehidupan malam di Bali (hal 175).

Sejarah membuktikan,  serangan terhadap kehidupan malam  di Bali  yang menjadi pilihan. Bahkan serangan  terhadap Bali bukan cuma sekali, tetapi dua kali!

Selain Bali, Jakarta juga masih menjadi langganan  pengeboman,  sebagaimana terjadi    pada   bom  di hotel JW Mariott dan Kedubes Australia.

Berbeda dengan aksi teror di Timur Tengah,  yang selalu diikuti  dengan pernyataan bertanggung jawab  dari pelakunya,  aksi-aksi yang dilakukan JI  tidak demikian. 

JI, menurut Ken Conboy,  diuntungkan  oleh   lambatnya  penyelidikan  polisi, seperti  yang terjadi    pada bom   Kedubes Filipina  dan bom Medan.

Hal itu memudahkan   mereka  merencanakan, merancang  dan melaksanakan   operasi dalam waktu singkat.  Serangan  terhadap Kedubes Filipina, misalnya,  hanya membutuhkan  waktu  seminggu, sementara  serangan malam Natal  dipersiapkan  sekitar dua bulan. 

Sebaliknya, al-Qaeda seringkali butuh waktu  bertahun-tahun  untuk melaksanakan  rencana mereka (hal 135).

Sejarah dan latar belakang  terbentuknya JI, hingga aksi  pengeboman  yang  mereka lakukan, dipaparkan dengan  menarik oleh Ken Conboy dalam buku ini.

Setelah  tewasnya Dr Azhari  beberapa waktu lalu,   aksi pengeboman    mereda.  Apalagi  Hambali, yang selama ini menjadi sumber dana, telah ditangkap di Thailand, Agustus 2003.

Namun aparat keamanan tak boleh lengah. Meski Azhari  telah tewas,   setidaknya masih ada   empat lagi pentolan JI yang belum tertangkap, hidup atau mati. Yakni, Zulkarnaen,  Nordin M Top, Dul Matin, dan Umar Arab.

Zulkarnaen, misalnya,   dikabarkan menghilang  sejak 2002.   Sedangkan Dul Matin  dan Umar Arab  diperkirakan    menuju hutan Mindanao, antara  kamp  yang dikelola MILF  dan  kelompok Abu Sayyaf (hal 252).

Mengutip  kata-kata Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar,  Ken Conboy menyatakan,  “Jika lima teratas – Nordin Top, Azhari,  Dul Matin, Zulkarnaen, dan Umar Arab – dapat dihentikan, JI dapat dikendalikan.” (hal 254)

Mengingat baru satu dari lima  nama di atas yang sudah berhasil dihentikan,  apakah  aparat keamanan belum  mampu mengendalikan JI?

Meski tiga terpidana mati Bom Bali 1 sudah dieksekusi, dan polisi juga sudah berhasil menggulung jaringan baru teroris yang tertangkap di Kelapa Gading, Jakarta, Oktober lalu,  nampaknya aparat keamanan  di Asia Tenggara, khususnya Indonesia,   belum bisa  mengendurkan  kewaspadaan karena   masih   harus   kerja keras  memburu dan membekuk  keempat orang tersebut!

Tinggalkan sebuah Komentar

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.