Judul buku: Mafatih al-Jinan: Kunci-kunci Surga
Penulis: Syekh Abbas Al-Qumi
Penerbit: Al-Huda, 2008
Tebal: 392 halaman
Banyak buku kumpulan doa diterbitkan. Namun tak banyak yang penerbitannya begitu dinanti para pembaca. Buku ini salah satunya.
Dalam prakata buku ini, penerbitnya, Al-Huda, menjelaskan ada dua produk mereka yang selalu ditanyakan penerbitannya oleh pembaca. Yakni, Mafatih al-Jinan, dan buku kumpulan fatwa atau risalah amaliah dari Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin spiritual Republik Islam Iran.
Buku ini merupakan jilid pertama dari tiga jilid Mafatih al-Jinan yang akan diterbitkan Al-Huda. Proses penerbitannya, menurut pihak Al-Huda, memakan waktu hampir empat tahun.
Di dalamnya memuat kumpulan doa yang bersumber dari Rasulullah SAW dan imam-imam ahlul bait. Selain itu, ada pula penjelasan keutamaan surah-surah al Quran, serta salat-salat yang diamalkan Rasulullah dan para imam ahlul bait.
Satu hal yang mengesankan dari doa dan munajat dalam buku ini adalah ungkapan rasa cinta yang teramat dalam kepada Sang Pencipta, serta pengakuan atas dosa dan kesalahan yang telah diperbuat.
Doa dan munajat mereka sangat puitis dan panjang. Sebelum menyampaikan permohonan, selalu diawali dengan puja puji akan kebesaran Allah. Tak ada doa yang sifatnya memerintah tuhan, seakan-akan tuhan itu pesuruh kantor.
Ada beberapa doa masyhur yang tercantum dalam buku ini. Antara lain, doa ash-Shabah dari Amirul Mukminin as, doa Kumail bin Ziyad ra, doa al-Masylul, doa Yastasyir, doa al-Mujir, doa al-adilah, doa Jausyan Kabir, dan doa Jausyan Shaghir.
Selain itu, ada pula hirz (doa penjagaan), munajat, dan tawassul Imam Ali Zainal Abidin as.
Karena baru jilid pertama, belum semua khazanah doa dan munajat imam-imam ahlul bait dapat dibaca dan diamalkan pembaca.
Sayangnya, entah karena proses penjilidan yang terburu-buru atau ada kesalahan teknis dalam poses cetak, ada beberapa halaman dalam buku ini yang tidak berurutan. Contohnya, halaman 328 berdampingan dengan halaman 341. Setelah itu lanjut ke halaman 342, 343, dan 344. Lalu kembali ke halaman 333 hingga 340.
Pengaturan halaman yang acak ini tentu menyulitkan dan membingungkan pembaca yang ingin membaca sebuah doa dengan utuh. Hal ini perlu menjadi perhatian penerbit untuk merevisinya dalam cetakan berikutnya. Dan jangan sampai terulang pada penerbitan jilid kedua dan ketiga.
9 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal


aktif dimana kang..
dulu-dulu saya pernah mengikuti arbain imam husen
sayam ingin bertanya…dimana saya boleh dapatkan buku ini
@g-mie: Saya dulu mendapatkannya di Pameran Buku Islam 2008. Mungkin dijual pula di toko-toko buku. Kalau tidak ada di toko buku, coba langsung hubungi penerbit Al Huda.
kalau mau beli di bandung ada ga ya
datang ke jl kembar II tiap malam jumat
pasti ada insha allah
di bandung
Assalamu’alaikum,
Saya telah menemukannya.Sebuah yang patut dimiliki oleh semua pencinta Rasul dan ahlulbytnya. Syabas penerbit dan penterjemahnya. Semoga kalian memperoleh kurnia AlLah swt dan syafaat RasullLah s.a.w.a, solawat
QS. 33:4-5 tegas bahwa garis ‘nasab’ itu dari laki-laki, krn itu masalah anak angkat Nabi Muhammad SAW oleh Allah SWT ditegaskan tidak boleh mengganti atau menghapus nasab seseorang.
Jika nasab diganti, contohnya anak Bunda Fatimah dng Saidina Ali ditarik garis nasabnya dari Bunda Fatimah berarti sama dengan mengganti nasabnya Saidina Ali.
Kalau mau memakai nasab ‘perempuan’ seyogianya garis nasab Fatimah turun ke anak perempuannya, misalnya Zainab, mengapa lari ke anak lelakinya? Lalu, terus bernasab pada ‘anak lelaki’.
Mufti resmi kerajaan Saudi Arabia salah satu ulama dari golongan WAHABI, Syeikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz mengemukakan pada majalah ‘AL-MADINAH’ hal. 9 nomer 5692 tanggal 07- Muharram 1402 H. “Orang-orang seperti mereka (cucu Nabi saw.) itu terdapat diberbagai tempat dan negeri. Mereka terkenal juga dengan gelar ‘Syarif ’. Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang mengetahui, mereka itu berasal dari keturunan ahlulbait Rasulallah saw. Diantara mereka itu ada yang silsilahnya berasal dari Al-Hasan ra. dan ada pula yang berasal dari Al-Husain ra. Ada yang dikenal dengan gelar ‘Sayyid’ dan ada juga yang dikenal dengan gelar ‘Syarif’. Itu merupakan kenyataan yang diketahui umum..
Keturunan Rasulullah saw adalah keturunan yang termulia dan Bani Hasyim adalah yang paling afdhal/utama dikalangan orang-orang Arab..
Adapun soal menghormati mereka, mengakui keutamaan mereka dan memberikan kepada mereka apa yang telah menjadi hak mereka, atau memberi maaf atas kesalahan mereka terhadap orang lain dan tidak mempersoalkan kekeliruan mereka yang tidak menyentuh soal agama, semuanya itu adalah kebajikan. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw berulang-ulang mewanti-wanti: ‘Kalian kuingatkan kepada Allah akan ahlul bait-ku…kalian kuingatkan kepada Allah akan ahlul bait-ku’. Jadi, berbuat baik terhadap mereka, memaaf kan kekeliruan mereka yang bersifat pribadi, menghargai mereka sesuai dengan derajatnya, dan membantu mereka pada saat-saat membutuhkan, semuanya itu merupakan perbuatan baik dan kebajikan kepada mereka.”.
Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan terjadi saat (kiamat) hingga berkuasa seorang lelaki dari Ahli Bait-ku yang namanya sama dengan namaku”. (HR. Ahmad bin Hanbal 1: 376)
Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Al-Mahdi berasal dari ummatku dari keturunan anak cucuku” (HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Imam Suyuthi dan Al-Albani mengakui keshahihan hadits ini.