“Cerita di Balik Berita” Seputar RI-1

Judul buku:  Dari Soekarno  Sampai SBY: Intrik & Lobi  Politik Para  Penguasa

Penulis: Prof Dr  Tjipta Lesmana, M.A

Penerbit:  PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008

Tebal: xxx + 396 halaman

presiden-ri

Wakil Presiden Jusuf Kalla  pernah  melontarkan kerisauannya atas  hubungan silaturrahmi para Presiden  RI dengan pendahulunya. Sebab mereka  tidak saling bertegur sapa setelah lengser dari  posisi RI-1.

Sejarah membuktikan,  setelah orde lama tumbang, Bung Karno tak bertegur sapa  dengan Soeharto. Demikian pula   Soeharto dan BJ Habibie tak bertegur sapa setelah orde baru tumbang.

 Putusnya komunikasi juga terjadi antara  BJ Habibie dengan Abdurrahman Wahid,  serta Abdurrahman Wahid dengan Megawati.

Terakhir, Megawati, yang merasa dikhianati,  tak bertegur sapa  hingga kini dengan  penggantinya,  Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kenapa mereka  putus  komunikasi dan silaturrahmi? Apakah   mereka menyimpan dendam kepada penggantinya?

Buku ini mengupas  komunikasi politik enam Presiden RI, mulai dari Soekarno hingga SBY. Penulisnya, Tjipta Lesmana, juga  menganalisis  karakter  para RI-1, termasuk  watak buruk seperti pendendam, yang diidap  beberapa orang RI-1.

Berdasarkan karakteristik komunikasi politik enam presiden tersebut, Tjipta  menyimpulkan sebagai berikut.

Soekarno:  Terbuka,  konsisten (dalam arti  tidak plintat-plintut), artikulasi penyampaian  visi dan misi  sangat gamblang. Konteks komunikasinya   sangat rendah, tegas, cepat mengambil keputusan, dan sangat firmed dalam pelaksanaan keputusan.

Soekarno, menurut Tjipta,  temperamental,  memiliki  sense of humor yang tinggi, dan pendendam.

Soeharto: Tertutup,  konsistensi cukup tinggi,  konteks komunikasi  bersifat situasional,  tapi umumnya tinggi,    meski dia bisa  juga sangat low  context.  Jika marah,   ekspresi wajahnya  tidak bisa  disembunyikan.

Soeharto  kuat dengan bahasa nonverbal, seperti angguk-angguk kepala, senyum, dan mengisap cerutu.  Penyampaian visi-misi jelas. Emosinya terkendala baik, dan hampir selalu tampil   dengan sosok yang cool,  tidak ada rasa humor.

Ketika mengambil keputusan,  Soeharto tergolong  cepat dan firmed.  Sekali dia membenci  seseorang, seumur hidup  tidak bisa luntur kebenciannya.

BJ Habibie:  Sangat terbuka,  namun terkesan mau  menang sendiri  dalam berwacana, dan alergi terhadap  kritik. Tapi, dia no hard feeling,  sangat demokratis,   konteks rendah.  Berbicara selalu cepat  sehingga khalayak  kadang tidak paham. Tidak punya visi-misi  karena tampil  sebagai presiden  semata-mata   keadaaan darurat.

Sebagai  pemimpin yang sekonyong-konyong dihadapkan  begitu banyak  permasalahan pelik,  Habibie  tidak bisa berpura-pura, tapi harus  bertindak   cepat di semua lini.  

Dia selalu tampak serius, jalan cepat,  bicara cepat, dan tidak ada sense of humor.

Abdurrahman Wahid: Sangat terbuka,  demokratis,  sangat  impulsif. Dia bisa tertawa terbahak-bahak karena rasa humornya  yang begitu tinggi. Namun bisa juga  menggebrak meja sekerasnya di  depan komunikannya.

Gus Dur  suka menggertak lawan. Bicara   “blong”, seolah  tidak ada filter sama sekali.  Konteksnya  middle low context. 

Dia pun  tidak pusing  dengan kritik terhadap dirinya dari mana pun datangnya. Semua lawannya  setiap saat  bisa dimaafkan. Jadi, tidak pernah ada  hard feeling, tapi kadang bisa juga dendam  pada lawan politik.

Konsistensinya amat sangat rendah. Apa yang  dikatakan pagi hari,  sorenya bisa  dibantah sendiri. Nyaris tidak  pernah menyinggung  visi-misi dalam  pidato-pidatonya.

Megawati Soekarnoputri:  Cukup demokratis,  tapi tertutup,  cepat emosional, dan kadar konsistensinya kurang.  Di mana pun  dia berusaha  melempar senyum, namun komunikasinya  berkonteks tinggi, meski tidak setinggi   bahasa Soekarno. Kadang  bisa juga  low context, apalagi sebelum  menjadi presiden.

Dengan orang-orang yang memiliki  kedekatan khusus, dia bisa  berkonteks rendah, bahkan “curhat”.

Mega alergi  pada kritik,  komunikasi politiknya  didominasi   oleh keluhan  dan unek-unek, nyaris tidak  pernah menyentuh  visi-misi pemerintahannya.

Tanpa  diragukan lagi,   Tjipta menyimpulkan, Megawati  sangat pendendam.

SBY: Demokratis,   menghargai  perbedaan  pendapat, tetapi selalu  defensif jika dikritik. Dia ultra hati-hati    dalam segala   hal sehingga  terkesan bimbang  dan ragu. 

Konteks bahasa: antara tinggi  dan rendah,  tapi kecenderungannya  tinggi. Sebagai seorang  perfectionist,  dia selalu berusaha berkomunikasi  dengan bahasa tubuh   dan verbal  yang sempurna.  Kata dan kalimat diucapkan jelas sekali,  diperkuat oleh intonasi dan suara yang mantap.

Konsistensinya  termasuk buruk,  sering  plintat-plintut, membingungkan publik.  Kadang tampil  dengan medium high context  (berputar-putar), terutama ketika  belum siap  dengan keputusannya. 

Rasa humor kurang dan emosi cukup tinggi, bahkan bisa  lepas  kendali.  Di mana pun  dia memperlihatkan  wajah yang serius; nyaris tidak   pernah  tertawa, maksimal hanya senyum.

Keenam presiden tersebut,  Tjipta  menyimpulkan, alergi terhadap kritik.  Mereka tidak senang, bahkan  marah, jika dikritik.  Hanya saja, kadar penolakan mereka berbeda-beda.

Khusus Soekarno dan Soeharto,  mereka menolak kritik, bahkan naik pitam  jika dikritik, apalagi  jika diolok-olok. Kritik sering  dipersepsikan  upaya untuk merongrong  pemerintahannya. Keduanya  tidak  memberikan kesempatan apa pun kepada lawan-lawannya, termasuk pers  yang vokal. (hal 349-352)

Presiden pertama dan kedua itu adalah tipe pemimpin   otoriter. Sementara Habibie dan SBY  menjalankan  kepemimpinan demokratis, sedangkan Megawati dan Gus Dur  lebih tepat disebut  pemimpin tipe laissez-faire atau delegatif. (hal 355)

Berkaitan dengan  komunikasi politik, Tjipta menilai,   yang paling efektif adalah Soeharto. Di masa dia berkuasa,  negara stabil, pembangunan ekonomi berhasil,  dan kesejahteraan  rakyat meningkat, meski semua itu harus dibayar dengan  ongkos sosial ekonomi politik yang  tinggi.

 Soekarno   cukup efektif.  Sayangnya, di masa kepemimpinannya,  upaya terus-menerus negara barat  untuk menggulingkan  kekuasaannya membuat  kehidupan rakyat  susah.  

Yang paling tidak efektif adalah Gus Dur dan Megawati, karena ucapan  dan pernyataan mereka   kehilangan  wibawa sehingga   tidak didengar rakyat.

Komunikasi politik  Habibie  cukup  efektif. Hambatan utama terutama  disebabkan  oleh keraguan publik pada kejujurannya setiap kali  dia berbicara  mengenai kasus  KKN Soeharto dan skandal Bank Bali.

Harus diakui  bahwa Habibie  memimpin negara dalam  situasi ultra-krisis, dan pemerintahannya  berhasil melaksanakan   transisi dari   otoritarian  ke demokrasi.

Untuk SBY, Tjipta mengkritik komunikasi politiknya  buruk dan tidak efektif.  Sebab, di masa pemerintahannya komunikasi politik   bangsa Indonesai terasa semakin brutal dan beringas.

Anarkisme  merambah  ke seluruh pelosok  Tanah Air. Bangsa Indonesia  sepertinya tidak   lagi paham apa itu “dialog”.

Tanpa tedeng aling-aling, Tjipta  menuding  kepemimpinan SBY  yang selalu dirundung  keraguan  dan   kebimbangan memberikan kontribusi  signifikan  pada kekacauan  komunikasi  politik  di Indonesia saat ini! (hal 365-366)

Buku ini terbilang berani  mengungkap dan membongkar  berbagai  ”cerita di balik berita”     seputar komunikasi politik  dan kepemimpinan  para penguasa negara ini.

Dengan mengandalkan informasi dari narasumber resmi maupun  informan, Tjipta mengungkap  berbagai hal yang selama ini  belum banyak terungkap di media massa. Misalnya,  pengakuan Megawati  seputar ketidakhadirannya pada  pelantikan Presiden SBY,  latar belakang keputusan Habibie mengadakan referendum  bagi rakyat Timor Timur,  dan  perintah tegas Soeharto kepada Menteri Penerangan Mashuri untuk menutup beberapa koran  setelah peristiwa Malari 1974.

Sayangnya,  “cerita di balik berita” tersebut  lebih banyak  mengupas  komunikasi politik  dan kepemimpinan para mantan presiden. Mungkin  karena yang bersangkutan sudah tak berkuasa, para mantan pejabat tinggi dan informan  berani bicara blak-blakan tentang mantan bos-nya.

Sementara  menyangkut  komunikasi politik dan kepemimpinan SBY, tak banyak   pejabat  tinggi yang  memberikan kesaksiannya.  Mungkin  mereka segan  kepada SBY yang tengah berkuasa, sehingga  sedikit sekali yang mau blak-blakan mengungkap  ”cerita di balik berita” seputar bos-nya.

Meski demikian,    kehadiran buku ini  bisa  membuka wawasan dan pengetahuan pembaca seputar komunikasi politik dan kepemimpinan para Presiden RI.

Tentu  berbagai “cerita di balik berita” itu  ditulis  tanpa ada maksud mempermalukan mereka yang telah  lengser maupun yang masih berkuasa.   Dan sejauh ini  belum ada keberatan dari para  Presiden RI maupun keluarganya  atas  isi buku ini.

Belum Ada Tanggapan

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar