Pemimpin harus bisa bicara dan menguasai banyak hal. Begitu pula dengan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), yang kini tengah sibuk-sibuknya menjaring dukungan dari berbagai kalangan.
Bila biasanya talk show dengan para capres/cawapres membahas masalah politik dan ekonomi, acara “JK Pemimpin Bersama Rakyat” di Metro TV, Minggu (7/6), membahas visi dan misi capres Jusuf Kalla (JK) di bidang olahraga.
Dipandu oleh Boy Noya, acara tersebut diikuti komunitas olahraga, mulai dari suporter klub sepak bola, atlet-atlet muda, dan mantan atlet.
Selain menjadi pengusaha, politikus, serta aktivis sosial, pendidikan, dan keagamaan, rekam jejak JK menunjukkan bahwa pria asal Makassar ini juga pernah membina dua klub sepakbola, yakni PSM dan Makassar Utama.
Tak heran bila dia cukup banyak mengerti masalah yang berkaitan dengan sepakbola nasional, khususnya yang menyangkut prestasi, pembinaan, dan dukungan suporter.
Selain bertanya, acara itu juga dimanfaatkan para peserta untuk curhat kepada JK. Seorang pengurus suporter Persija, misalnya, berharap Persija bisa kembali main di Jakarta, mengingat selama musim kampanye tim asal Jakarta Pusat itu tak diizinkan oleh kepolisian untuk menggelar partai kandang di Jakarta.
Jk menyarankan suporter Persija untuk bisa mendisiplinkan dirinya agar selalu tertib. “Nanti saya akan coba bantu supaya Persija bisa main kembali di Jakarta,” janjinya.
Masih menyangkut sepakbola, Boy Noya menanyakan komentar JK tentang ambisi PSSI untuk menjadi penyelenggara Piala Dunia 2022. “Apakah ini bukan mimpi?” tanyanya.
Menurut JK, dalam masa 13 tahun mendatang kemampuan ekonomi Indonesia akan jauh lebih baik dibanding sekarang, dan bisa menyamai Afrika Selatan, yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010.
Dia juga optimis prestasi sepakbola Indonesia akan meningkat. Selain itu, fasilitas infrastruktur seperti stadion akan ditambah, sehingga akan menggerakkan roda ekonomi karena bisa menyerap tenaga kerja.
Setelah menjawab berbagai pertanyaan seputar sepakbola dan pembinaan atlet usia muda, seorang mantan atlet binaraga bernama Aan Palmar, yang pernah berprestasi di Sea Games dan PON, menyampaikan keluh kesahnya.
Aan mengaku, di usia 46 tahun dia tak memiliki pekerjaan tetap dan pemerintah tak memperhatikan kesejahteraan mantan atlet seperti dirinya.
Menurut Aan, tetangga yang bersimpati sampai menyalahkan negara. “Indonesia payah, atletnya nggak diperhatiin,” katanya meniru cemoohan para tetangga.
Mendengar curhat Aan, JK mengaku prihatin dan berjanji akan membantu. Menurut JK, pemerintah telah memberi apresiasi kepada atlet yang berprestasi di tingkat Sea Games, Asian Games, dan Olimpiade, dengan mengangkat mereka menjadi calon PNS.
“Tapi ada batasan umurnya, sementara Anda sudah 46 tahun,” kata JK.
Selain Aan, masih ada dua lagi mantan atlet yang senasib dengannya, yang berkesempatan curhat kepada JK, dan diundang tampil ke panggung.
Keduanya adalah Nico Thomas, mantan juara dunia tinju asal Ambon, dan Wempy, mantan atlet binaraga, yang pernah meraih emas Sea Games dan perak Asian Games.
Wempy, yang berbadan gempal, mengeluhkan nasibnya yang menganggur, dan hidup dari belas kasihan teman-temannya, khususnya untuk bayar listrik dan membeli susu untuk anaknya.
Dia mengaku, di masa orde baru sering mendapat order mengawal pejabat atau pengusaha. Namun kini jarang mendapat tawaran seperti dulu.
“Saya jadi pengawal Bapak juga mau. Nyawa Bapak nyawa saya!” janjinya.
“Pengawal saya harus tentara,” komentar JK.
Pada kesempatan itu, Wempy, dengan suara lantang, sempat “memprovokasi” atlet-atlet muda untuk tidak termakan janji KONI Pusat yang pernah menjanjikan pekerjaan untuk mantan atlet seperti dirinya.
Sementara Nico Thomas, dengan suara terbata-bata, mengharapkan pemerintah mau memperhatikan nasib mantan-mantan atlet seperti dirinya dan Wempy.
Setelah mendengar keluh kesah keduanya, JK berjanji akan mengusahakan pekerjaan untuk mantan atlet melalui BUMN.
Khusus untuk Wempy, JK berjanji akan membantu biaya untuk bayar listrik dan susu anaknya. JK juga sempat menanyakan alamat pria tersebut, dan berjanji akan menghubunginya bila sudah ada peluang pekerjaan.
Menyaksikan tayangan tersebut, saya berharap JK bisa secepatnya membantu nasib mereka, sebagaimana slogan kampanyenya, “Lebih cepat lebih baik”.
Apalagi yang namanya perut tentu tak bisa menunggu. Selain itu, mereka umumnya sudah berkeluarga, sehingga harus membiayai pendidikan putra-putri mereka.
Saya tak tahu apakah acara itu disaksikan pula oleh pengurus KONI Pusat. Sebagai lembaga yang menaungi berbagai cabang olahraga, KONI tentu harus ikut memikirkan kesejahteraan atlet yang sudah berjasa untuk negara.
Tentu mantan atlet seperti Wempy tak akan melontarkan kecaman terhadap KONI Pusat di depan pejabat tinggi seperti JK, bila KONI mau memenuhi janjinya.
Sebagai anak bangsa, mantan-mantan atlet itu telah berjasa mengharumkan nama negara. Jadi sudah sepantasnya negara memperhatikan kesejahteraan mereka setelah pensiun sebagai atlet.
No Comments Yet
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar
