Judul buku: Room to Read
Penulis: John Wood
Penerbit: Bentang, 2009
Tebal: x + 386 halaman

Berkarir sebagai eksekutif di perusahaan terkenal dengan gaji besar bukan jaminan untuk hidup bahagia. John Wood, penulis buku ini, yang pernah menjadi eksekutif di Microsoft telah membuktikannya.
John adalah mantan spesialis dalam pasar internasional. Dia mengaku pekerjaannya secara finansial menguntungkan, tetapi penuh dengan tekanan dan tingkat stres yang tinggi.
Setelah berkarir selama tujuh tahun di Microsoft, dia memutuskan untuk berhenti dan berkhidmat di dunia pendidikan.
Jalan hidupnya berubah setelah mendaki Himalaya, dan menyaksikan betapa memprihatinkannya sarana pendidikan di Nepal. Saat itu tumbuh tekad di hatinya untuk membantu mendirikan perpustakaan di sekolah-sekolah dasar di negara tersebut.
Kelak, bukan cuma satu perpustakaan yang berhasil didirikan oleh tim Room to Read, melainkan 7.000, yang tersebar di Nepal, India, Kamboja dan Vietnam.
Tak mudah perjuangan John untuk meraih kepercayaan donatur terhadap Room to Read. Di masa awal berdirinya Room to Read, cukup banyak pengorbanan yang ia keluarkan.
Meski di kartu namanya tertulis CEO, namun John harus merangkap berbagai pekerjaan, mulai dari ketua penggalangan dana, wakil direktur sumber daya manusia, orang yang berjalan kaki mengantar deposito ke bank, penjilat perangko ketika mengirim kuitansi, resepsionis yang menjawab telepon, hingga menjadi pesuruh yang membawa sampah ke dumpster (tempat sampah besar). (hal 261)
Namun jerih payahnya tak sia-sia. Berkat liputan media massa, para donatur mulai menaruh kepercayaan terhadap program Room to Read.
Berdasarkan kesaksian John, di tahun pertama berdirinya organisasi nirlaba itu, mereka hanya mampu mengumpulkan US$ 51.000, dimana 20% dari jumlah tersebut berasal dari uang pribadinya.
Setelah kepercayaan donatur meningkat, mereka mampu memperoleh US$ 35.000 dalam waktu kurang dari satu jam.
Bertambahnya donasi, membuat mereka bisa menambah program. Bila semula hanya membangun perpustakaan, kini mereka bisa juga memberi beasiswa kepada siswa-siswa tak mampu.
Bahkan setelah musibah tsunami akhir 2004 lalu, Room to Read juga turut berpartisipasi membangun kembali sekolah-sekolah yang hancur di Sri Lanka.
Sayangnya, kehidupan pribadi John tak sesukses Room to Read. Di usai ke-40, dia masih melajang dan belum mampu membeli rumah di San Fransisco, tempatnya bermukim selama ini.
Sebagai hadiah ulang tahun untuk dirinya sendiri, John memutuskan untuk mencurahkan apa yang mungkin akan menjadi dasawarsa paling produktif dari kehidupan dewasanya kepada pencarian akan pendidikan universal.
Dia telah meninggalkan semua pikiran tentang kembali ke bidang teknologi. John telah menemukan jalan hidupnya yang sejati, dan merasa beruntung mengenal siapa dirinya, apa yang ingin ia fokuskan, serta ukuran-ukuran yang ia perlukan untuk menilai diri sendiri. (hal 384)
Room to Read adalah judul untuk edisi baru buku ini. Sebelumnya, pada Agustus 2007, buku ini terbit dengan judul Leaving Microsot to Change the World.
Telah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa, buku ini berhasil meraih Academy for Educational Development “Breakthrough Ideas in Education” Award 2007.
Kehadiran buku ini mengingatkan kita pada buku Three Cups of Tea karya Greg Mortenson.
Sama seperti John, Greg juga pribadi langka yang mau meninggalkan pekerjaannya untuk berkhidmat pada dunia pendidikan dengan mendirikan ratusan sekolah di pelosok Pakistan dan Afganistan.
Satu hal yang membedakan buku ini dengan karya Greg adalah pada konflik yang terdapat di dalamnya. Membaca Three Cups of Tea sarat dengan petualangan dan konflik yang dialami Greg dalam mewujudkan rencananya membangun sekolah-sekolah di pedalaman Pakistan dan Afganistan.
Sementara buku ini terasa datar karena John tak menghadirkan konflik di dalamnya. Entah karena pekerjaannya berlangsung dengan mulus, tanpa menemui kendala seperti birokrasi yang ruwet dan penolakan dari penduduk lokal.
Atau memang dia sendiri yang tak mau menghadirkan konflik-konflik yang, sedikit-banyak, pasti dia alami?
Meski demikian, kehadiran Room to Read berhasil memberi inspirasi kepada pembacanya untuk peduli pada dunia pendidikan.
John telah menanam amal dengan cara membangun perpustakaan, memberi beasiswa, dan merehab sekolah-sekolah yang hancur akibat tsunami. Dia telah menemukan dunianya, dan bahagia dengan apa yang dia lakukan.
1 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

[...] dipinjam dari sini. Categories: Buku, Hobi Komentar (0) Lacak Balik (0) Tinggalkan komentar Lacak [...]