Prajurit Baret Merah Berbagi Cerita

Judul Buku: Kopassus untuk Indonesia

Penulis: Iwan Santosa dan E.A. Natanegara

Penerbit: Red & White Publishing, 2009

Tebal: 343 halaman

Banyak cara berbagi cerita. Bisa secara lisan dengan bertutur langsung. Bisa pula lewat tulisan yang dipublikasikan.

Melalui buku ini, para prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) berbagi cerita dan pengalaman mereka dalam menjalankan berbagai penugasan, baik operasi militer maupun kemanusiaan, di dalam maupun luar negeri.

Diawali dengan pemaparan tentang sejarah berdirinya Korps Baret Merah, buku ini mengisahkan cikal bakal Kopassus, yang semula bernama Kesatuan Komando Tentara Teritorium III/Siliwangi, yang dipimpin Moch Idjon Djanbi pada 1952. Nama tersebut tak bertahan lama. Setahun kemudian berubah menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD).

Pada 1955, KKAD kembali berganti nama menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD). Selama kurun 1955 – 1966, RPKAD ditugaskan di beberapa medan konflik seperti melawan gerilya Malaysia, Inggris dan Gurkha pada 1962, dan merebut RRI dan Halim Perdana Kusuma pada 1965.

Nama KKAD kembali berganti menjadi Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat (Puspassus AD) pada 1966. Lima tahun kemudian, Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) menjadi nama baru Korps Baret Merah.

Nama Kopassandha bertahan selama 15 tahun. Akhirnya, sejak 1986 hingga kini nama yang digunakan adalah Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Berbagai kisah pengabdian para prajurit Kopassus ditulis di bagian kedua buku ini. Mulai dari operasi militer di Aceh, operasi intelijen di Poso dan Ambon, hingga operasi kemanusiaan di Papua, diceritakan oleh para prajurit.

Selain itu, dikisahkan pula operasi-operasi lainnya, seperti pembebasan sandera di Mapenduma, Papua, penangkapan Xanana Gusmao di Dilli, Timor Timur, operasi intelijen menjelang jajak pendapat di Timor Timur, serta operasi pengamanan Jakarta saat kerusuhan 1998.

Untuk meng-counter isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dibahas pula masalah penegakan hukum humaniter dan HAM. Belajar dari pengalaman di daerah operasi di Aceh, Papua, dan Timor Timur, Kopassus membuka diri untuk menerima masukan terkait penegakan hukum humaniter dan HAM.

Salah satu upaya perbaikan adalah kerjasama dengan lembaga internasional seperti Palang Merah Internasional (ICRC). Hukuman juga dijatuhkan langsung meski sedang berada di daerah operasi (hal 186).

Para prajurit dilatih untuk mengerti, menghayati, memahami, dan menghormati HAM tanpa kecuali. Termasuk dalam menghadapi kelompok yang melanggar HAM di tengah masyarakat dengan aksi separatisme serta teror. (hal 190)

Pengalaman bertugas di luar negeri sebagai pasukan pemelihara perdamaian PBB, juga dituangkan dalam buku ini. Prajurit Baret Merah banyak terlibat dalam penugasan internasional, antara lain di Sierra Leone, Sudan,Lebanon, Georgia, Kamboja, dan Bosnia.

Buku ini juga mengungkap penugasan prajurit Kopassus dalam menjaga KBRI di Belanda dan Papua Nugini (PNG). Ada alasan khusus untuk penugasan tersebut. Di Belanda, Koppassus diturunkan karena di negara tersebut banyak oknum gerakan separatis, seperti Republik Maluku Selatan, yang bermukim di sana.

Sementara di PNG mereka diturunkan untuk menjaga kedutaan dan para diplomat mengingat tingginya tingkat kriminalitas di Port Moresby, ibu kota PNG, serta adanya oknum Organisasi Papua Merdeka, yang bermukim di sana.

Selain penugasan sebagai pasukan pemelihara perdamaian PBB, dan bertugas menjaga KBRI, prajurit Kopassus juga dikirim ke luar negeri untuk berlatih dengan pasukan negara sahabat, seperti Korea Selatan dan Australia. Ada juga yang dikirim untuk menambah ilmu nontempur, seperti berlatih karate untuk mengambil sabuk hitam di Jepang.

Mengingat banyaknya bencana alam di dalam negeri, prajurit Baret Merah juga kerap ditugaskan untuk operasi kemanusiaan di daerah bencana, seperti saat tsunami Aceh, gempa Jogjakarta, dan banjir di Jakarta.

Buku ini berisi kisah sukses prajurit Kopassus dalam berbagai penugasan, baik di dalam maupun luar negeri, serta dalam operasi tempur maupun nontempur. Kisah sukses di bidang olahraga, seperti juara lomba menembak se-Asia Tenggara, dan keberhasilan prajurit Baret Merah mencapai puncak Mount Everest, juga diungkapkan dalam buku ini.

Karena berisi kisah sukses, jangan harap ada cerita tentang keterlibatan prajurit Kopassus dalam penculikan sejumlah aktivis pada kurun 1996-1997.

Tak ada pula, misalnya, tulisan tentang terbunuhnya seorang ulama setelah meninggalkan markas Kopassus di Serang, atau terbunuhnya tokoh Papua Theys Hiyo Eluai. Semua kasus tersebut hingga sekarang masih gelap. Tak ada pengadilan atas pembunuhan kedua tokoh itu, sehingga tak diketahui pula siapa pembunuhnya, meski ada desas-desus yang menyebutkan adanya keterlibatan oknum prajurit Kopassus.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, buku ini cukup menarik untuk dibaca karena bisa membuka wawasan pembaca untuk mengetahui profil lengkap pasukan khusus Angkatan Darat tersebut.

Kehadiran buku ini diharapkan juga bisa memancing korps pasukan elit lainnya, seperti Korps Marinir, Komando Pasukan Khas (Kopaskhas), dan Brigade Mobil (Brimob) untuk membuat buku serupa.

Wawasan pembaca tentang profil pasukan elit Indonesia akan makin kaya dan bertambah luas bila Brimob, Kopaskhas, dan Marinir juga menuangkan pengalaman para prajuritnya dalam sebuah buku. Ditunggu!

About these ads

4 Komentar

  1. bisa nambah informasi….. mantap

    • good job kopassus

  2. saya sangat bangga dengan kopassus,dan sangat mendukung kalau prajurit kopassus ditambah semakin banyak,

  3. Yang tentu pasti banyak positifnya barangkali 99 banding 1. Profesional adalah menu pokok, pengendalian emosi adalah wajib, berjuang dgn patriot adalah kebanggaan dari Ibu Pertiwi.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.