Jadilah Pemaaf dan Hidup dengan Modus “Menjadi”

Judul buku: Tafsir Kebahagiaan: Pesan al Quran Menyikapi Kesulitan Hidup

Penulis: Jalaluddin Rakhmat

Penerbit: Serambi, 2010

Tebal: 201 halaman

Umumnya  al Quran ditafsirkan berdasarkan  urutan  ayat-ayatnya. Para  ahli

tafsir  mengulas  satu per satu ayat mulai dari basmallah  hingga surah an-Nas.

Namun ada pula  yang menafsirkan secara topikal, yang mengulas  al Quran berdasarkan   topik tertentu.  Itu namanya tafsir maudhu’i (topikal / tematik). Buku ini  contohnya.

Penulisnya,  Jalaluddin Rakhmat, mengaku   lebih tertarik   pada tafsir  topikal. Dalam buku ini dia  mengulas ayat-ayat  al Quran  yang khusus menjelaskan  kepada kita petunjuk-petunjuk meraih kebahagiaan.

Menurut Kang Jalal,  selama ini    sudah banyak  sisi hukum  dan teologis  al Quran yang   dikupas para ahli,  tapi sangat jarang  yang mengulasnya secara psikologis. Padahal,  banyak sekali  ayat suci al Quran  yang memberi  inspirasi dan petunjuk  untuk hidup sukses dan bahagia.

Dia mengajak  pembaca  menempatkan diri  dalam sudut yang tepat  agar realitas yang dihadapi  bisa memberi kebahagiaan  atau harapan  tentang kebahagiaan.

Kang Jalal mengibaratkannya  dengan bidikan seorang  fotografer. Bila  gambar hasil bidikannya  tidak seperti yang diharapkan,   yang bisa dilakukan   adalah mengambil sudut  bidikan lain  untuk mendapatkan   gambar yang lebih bagus.

Dia juga mengajak pembaca membahas  fakta bahwa al Quran cocok dengan penemuan  dan pengetahuan  mutakhir.  Membaca al Quran   dengan cahaya ilmu pengetahuan, dia menjelaskan,  memberi kita makna  al Quran   yang jauh lebih mendalam. (hal 13-14)

Bicara soal kebahagiaan, erat kaitannya dengan hati. Hanya hati yang bersih dan tenteram saja yang bisa  merasakan kebahagiaan.  Tak heran bila dalam buku ini banyak pembahasan  seputar hal tersebut.  Antara lain,  mensyukuri musibah, memaafkan,  dan  menjauhi prasangka buruk.

Selain mengutip  ayat suci al Quran, sabda Nabi SAW, dan  pendapat orang-orang saleh menyangkut kebahagiaan,  Kang Jalal juga berbagi  pengalaman hidupnya yang bisa menjadi inspirasi dalam meraih kebahagiaan.

Satu ketika  dirinya pernah difitnah. Ada niat di hatinya untuk membalas dendam. Namun salah seorang putranya mengingatkan, “Hidup bahagia adalah  adalah cara membalas dendam  yang paling baik.”

Kang Jalal mengaku  tersentuh mendengarnya. Dia memaknai ucapan putranya itu  untuk tidak  menghabiskan perhatian  guna meratapi  masa lalu. Sebab kehidupan yang kita  dapatkan dan kebahagiaan  yang kita fokuskan di keluarga, sudah cukup  untuk mengobati sakit hati  tanpa harus membalas dendam kepada orang  yang menyakiti hati.

Merujuk pada al Quran   surah an Nahl 125,  dia menjelaskan bahwa obat terbaik  untuk menyembuhkan sakit hati adalah tak membalas sakit hati, namun  menahan diri  untuk kemudian memaafkan.

Caranya, pertama,  sadari bahwa  yang mereka lakukan kepada kita  adalah sebuah kesalahan.  Dan jika mereka  menyakiti kita, maka  barangkali kita pun pernah  menyakiti  hati orang lain.

Kedua, lepaskan hak untuk membalas, dan menahan diri.

Ketiga,  setelah memahami  dan melepaskan   hak membalas,  dan ini yang paling berat, selanjutnya adalah   mencintai  orang yang menyakiti  hati kita.  (hal 78-81)

Kang Jalal juga menganjurkan pembaca untuk menjadi pemaaf. Sebab kebaikan maaf justru berpulang  kepada diri kita, yaitu mengobati  rasa sakit hati.

“Saya yakin, orang yang  mudah memaafkan  adalah orang yang  hidupnya bahagia. Sebab memaafkan  tidak lahir  kecuali dari hati yang bahagia,” dia mengingatkan. (hal 84)

Selain menjadi pemaaf, dia juga menganjurkan untuk menjadikan modus “menjadi”  sebagai modus hidup. Sebab  kebahagiaan diperoleh  ketika memberi, bukan mengambil.

Untuk “menjadi”, disarankannya untuk mengeluarkan  semua pemusatan ego, semua sikap “kepunyaanku”, atau mengosongkan   diri dari ketertarikan kepada kepemilikan.  Dalam istilah sufi,  pengosongan  ini  disebut dengan kefakiran.

Mengutip pendapat seorang sufi,  Kang Jalal menjelaskan bahwa  kefakiran ditandai    dengan ketenangan ketika    tidak ada,  dan pemberian dan pengorbanan  ketika ada. Fakir mempunya modus “menjadi”  yang ditandai dengan kesediaan memberi,  berbagi,  dan berkorban. (hal 189-190)

Kita  tentu bebas untuk setuju  atau malah  berbeda pendapat dengan Jalaluddin Rakhmat  tentang makna kebahagiaan. Namun apa yang dituangkannya dalam buku ini bisa memperkaya  wawasan pembacanya   tentang kebahagiaan dan  jalan untuk meraihnya, khususnya bagi  mereka yang  sudah  pernah belajar tentang konsep bahagia dari sisi psikologi.

Kesulitan hidup bukan untuk diratapi, tapi disikapi sebagai jalan  yang bisa mengantarkan pada kebahagiaan. Tafsirnya   ada dalam buku ini, pengamalannya  terpulang  pada pembaca  masing-masing.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s