Perempuan Pendulang Timah Pertama

Judul buku:  Padang Bulan

Penulis: Andrea Hirata

Penerbit: Bentang, 2010

Tebal: xii + 254 halaman

Buku ini novel pertama dari   dwilogi  Padang  Bulan, karya terbaru  Andrea Hirata.  Sama seperti tetralogi  Laskar Pelangi,  novel ini  mengambil  latar belakang  kehidupan masyarakat  Belitong,  khususnya  suku Melayu, dengan tokoh utama Enong,  seorang perempuan Melayu  pekerja keras yang menjadi tulang punggung keluarga.

Usia 14 tahun,  Enong  menjadi yatim. Ayahnya yang  bekerja  di pertambangan timah  meninggal karena kecelakaan kerja. Sebagai  anak tertua, dia memutuskan bekerja guna meringankan beban keluarga.  Dia berkorban meninggalkan bangku sekolah kelas 6 SD demi mencari nafkah untuk ibu dan tiga adiknya yang masih kecil.

Tanpa ijazah dan keterampilan,  merantaulah dia  ke Tanjong Pandan. Namun hasilnya  nihil. Tak satu pun  toko atau kantor yang mau menerimanya bekerja. Sebuah perantauan yang gagal.

Pulang  kampung, Enong memutuskan bekerja  mendulang timah.  Itulah momen bersejarah dalam hidupnya.  Seorang perempuan  14 tahun bertubuh kurus  bekerja  seperti laki-laki. Karena  belum ada  satu pun perempuan  pendulang timah di kampungnya, Andrea Hirata menjuluki Enong sebagai “perempuan  pendulang timah pertama”.

Buku ini tidak melulu berisi  kehidupan Enong.  Ada pula  kisah percintaan Ikal dan gadis Tionghoa pujannya, A Ling, dengan segala lika-likunya. Disebut berlika-liku karena  sempat diwarnai miskomunikasi. Itu semua karena ulah  teman ikal, Detektif  M. Nur, seorang lelaki Melayu yang tergila-gila dengan hal-hal berbau  intelijen  dan spionase.

Ceritanya,  si detektif itu  menyampaikan informasi, yang belakangan terbukti salah, bahwa A Ling  mempunyai pacar  baru bernama Zihar.  Padahal  Zihar hanyalah kerabat A Ling, dan sudah mempunyai  calon istri.

Keadaan bertambah parah dengan tidak adanya  komunikasi antara Ikal dan A Ling, karena yang terakhir ini  pergi ke luar kota. Sementara  informasi sesat dari Detektif   M. Nur terus mengalir dan membuat Ikal bertambah panas.

Di saat  hubungan cintanya bermasalah,  Ikal  mendapat desakan dari  ibunya untuk  bekerja.  Dia  memutuskan   mengirim   lamaran kerja ke Jakarta, dan ada yang memberikan jawaban. Akhirnya  dia bersama dengan Detektif M. Nur berangkat ke Jakarta untuk mengadu nasib. Bila Ikal  ke Jakarta untuk bekerja,  si detektif  dalam rangka  kursus  teknisi parabola.

Selain mereka berdua, turut  pula Enong, yang  berniat mendaftar  kursus bahasa Inggris di  Tanjong Pandan.   Dalam novel ini Andrea menggambarkan sosok Enong  bukan hanya  sebagai perempuan pekerja keras, namun juga seorang  peminat bahasa Inggris. Minat itu sebenarnya sudah tumbuh sejak   SD, namun apa daya  kondisi ekonomi membuatnya  tak bisa melanjutkan pendidikan.

Kepedulian  Andrea akan pentingnya  pendidikan tercurah dalam sosok Enong.  Meski kursus yang akan diikutinya  kebanyakan  pesertanya  usia  SMA, namun Enong tak minder apalagi membatalkan niatnya untuk terus belajar.  Semangat  ini yang patut dicontoh. Bukankah  belajar itu tak kenal usia, dari buaian hingga liang lahat? 

Kembali  ke Ikal dan Detektif M. Nur,   setelah mengantar Enong mendaftar kursus bahasa Inggris, mereka  melanjutkan rencana untuk berlayar ke Jakarta. Namun,  saat akan melangkah ke kapal, keduanya berubah  pikiran.

Ikal membatalkan niat karena punya rencana gila ingin menantang  Zihar  main catur dan pingpong, syukur-syukur kalau bisa mengalahkannya. Sementara si detektif teringat pada burung merpati kesayangannya. Rupanya dia berat meninggalkannya. Walhasil,  keduanya batal  berangkat ke Jakarta dan kembali ke kampung. 

“Tragedi” cinta Ikal   berakhir   happy ending  dengan  kembalinya A Ling ke Belitong. Ternyata  kepergiannya  dalam rangka  mempersiapkan pernikahan Zihar. Keduanya  digambarkan  kembali merajut  tali kasih,  sementara pernikahan Zihar menjadi penutup  novel pertama dari dwilogi Padang Bulan ini .

Novel yang sarat dengan idiom-idiom Melayu ini setidaknya meninggalkan dua pesan pada pembacanya, Pertama,  menuntut ilmu tak kenal usia. Teruslah belajar selagi hayat di kandung badan.  Itu tercermin   dari  kisah  hidup Enong si “perempuan pendulang  timah pertama”.

Kedua,  jangan abaikan komunikasi, apalagi dengan orang yang kita cintai. Prasangka  buruk kepada A Ling   akibat informasi sesat yang diterima Ikal,  hampir saja  membubarkan hubungannya dengan perempuan itu.    

Selebihnya,   pembaca  bisa menyimpulkan sendiri   isi novel ini.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s