Semoga Allah Memuliakan Wajahnya

Judul buku: Ali bin Abi Thalib  The Glorious

Penulis:  Abdurrahman Asy Syarqawi

Penerbit: Sygma Publishing, 2010

Tebal: xvi + 504 halaman

Tak ada keraguan tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib. Dia adalah sepupu, menantu, sekaligus sahabat utama Rasulullah SAW.  Dia  sudah ikut Nabi  Muhammad sejak belia, dan dia adalah orang kedua setelah Khadijah yang mengakui  Allah  sebagai  tuhan  dan Muhammad sebagai  utusan   Allah.  Praktis hidup Ali  tak pernah  terkontaminasi kepercayaan musyrik, karena dia masuk Islam sejak kanak-kanak.

Dialah satu-satunya  sahabat Nabi yang digelari karamallahu wajhah (semoga Allah memuliakan wajahnya).  Dalam pribadinya tergabung  kefasihan seorang pujangga dan  keperkasaan seorang panglima perang.

Di siang hari dia ksatria di medan perang, dan di malam hari dia seorang sufi  yang merintih mohon ampun kepada Allah.  Keutamaan Ali  sebagai seorang  sufi bisa dilihat  dari  pengakuan  berbagai tarekat, yang hampir semuanya merujuk kepada Ali.   

Untuk menggambarkan keutaman Ali, Rasulullah SAW bersabda, “Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah  pintunya.”  Sabda tersebut menunjukkan keluasan ilmu dan pengetahuan Ali, baik menyangkut agama, maupun  hal-hal lainnya.

Di masa  kekhalifahan  Abu Bakar dan Umar bin Khatab,  Ali menjadi  konsultan dan rujukan   utama kedua khalifah itu dalam mencari solusi berbagai masalah, baik agama,  kemasyarakatan, maupun kenegaraan. 

Umar kerap kali mengucapkan, “Celaka Umar bila tak ada Ali.”  Itu menunjukkan     kapasitas Ali sebagai penasihat utama khalifah  dalam membantu mencari solusi  masalah-masalah yang pelik. Dan Umar mengakui   keluasan ilmu dan pengatahuan  Ali.

Buku ini   adalah sejarah  hidup Ali, yang ditulis  dengan gaya penulisan novel. Pembaca bisa saja menganggapnya sebagai novel sejarah tentang biografi Ali.     

Penulisnya, Abdurrahman Asy Syarqawi,   membagi  sejarah  hidup  Ali  dalam beberapa babak.  Mulai dari kelahiran, masa kanak-kanak  di rumah tangga Nabi, hingga masa khulafaur rasyidin.

Setelah Nabi wafat, para sahabat berbeda pendapat dalam menentukan   siapa pengganti Nabi.  Ali   tak mau terlibat dalam polemik.  Dan setelah Abu Bakar  terpilih, dia memberikan baiat-nya kepada khalifah pertama.

Begitu juga setelah  Umar terpilih sebagai pengganti  Abu Bakar. Ali kembali memberikan baiat-nya kepada Umar. Di masa kedua khalifah itu,  umat Islam  bersatu dan kompak mendukung keduanya.

Setelah Umar wafat,  para sahabat  berbeda  pendapat  dalam mencari penggantinya. Ali masuk  nominasi, namun  senioritas Usman bin Affan  membuatnya  terpilih sebagai  khalifah. Saat itu Usman  sudah berusia 73 tahun, sementara Ali masih 40-an tahun.

Di masa  kepemimpinan Usman inilah banyak terjadi konflik yang  membuat Ali  harus banyak turun tangan menenteramkan umat yang ingin berontak. Buku ini menggambarkan dengan kritis berbagai konflik tersebut, yang  bersumber dari ketidakpuasan   umat atas  nepotisme yang terjadi.  Saat itu banyak  posisi penting yang  diserahkan kepada  keluarga khalifah. Usman juga banyak memberikan hadiah kepada  kerabat-kerabatnya.

Protes  yang ditujukan kepada khalifah membuat Usman berulangkali meminta  masukan Ali untuk mendapatkan solusinya. Ali dengan tulus memberikan  masukan, antara lain  khalifah harus memecat  pejabat-pejabat  yang korup,  tak peduli dia masih keluarga khalifah sekalipun.  Namun berulangkali saran diberikan, tapi  tak ada tindak lanjutnya. Sementara kemarahan  rakyat semakin memuncak.

Diceritakan dalam buku ini,  Ali memilih menyingkir dari Medinah agar tidak terlibat dalam konflik yang semakin parah.  Namun saat rumah Usman diblokade  para penentangnya, kembali dia  harus turun tangan untuk menahan kemarahan  mereka.

Tapi,  Ali kalah cepat. Pedang  pemberontak  sudah lebih dahulu    terhunjam  ke tubuh Usman, dan  menorehkan sejarah kelam dalam  kehidupan umat. Seorang khalifah, sahabat Nabi SAW yang  dijamin ahli surga, akhirnya  tewas di tangan  pemberontak. 

Kematian  Usman  menimbulkan ketidakpuasan para pengikut dan keluarganya. Mereka  terus mempermasalahkannya dan menuntut para pembunuhnya untuk dihukum. Di masa kekhalifahan Ali,   kematian Usman ini terus menerus dipolitisir oleh  para penentang Ali, baik dari  kalangan keluarga Usman maupun  mereka yang tak mau memberikan baiat-nya kepada Ali. 

Konflik kian memanas, dan persatuan umat terancam pecah.  Dengan sabar  Ali terus membujuk mereka yang tak puas itu untuk  lebih mengutamakan persatuan, dan menjelaskan bahaya perpecahan yang akan terjadi bila  konflik sampai  pecah menjadi perang saudara.

Upaya persuasif yang dilakukan khalifah itu hampir membuahkan hasil.  Salah seorang penentangnya, Zubair bin Awam,  berhasil disadarkan oleh Ali.  Kepada Zubair, Ali mengingatkan  kembali masa-masa saat umat bersatu padu di bawah kepemimpinan Rasulullah. Dia juga mengingatkan Zubair  akan bahaya perpecahan yang akan terjadi. 

Dalam buku ini dijelaskan bahwa  Zubair sudah  menarik dukungannya kepada  gerakan yang akan  melakukan makar kepada Ali. Namun  takdir bicara lain. Sebelum pecah perang, dia keburu meninggal.  Gerakan  makar  yang dikendalikan  Talhah bin Ubaidillah  dan Aisyah itu  tak bisa  dicegah. Akhirnya,  meletuslah perang Jamal.   Darah  umat kembali tumpah oleh sesama  saudara  seiman.

Ali dan pasukannya berhasil memenangkan perang  tersebut.  Talhah, salah seorang sahabat Nabi,  tewas. Sementara Aisyah  selamat.  Ali memerintahkan pasukannya untuk  menjaga kehormatan  mereka yang selamat, berikut harta bendahnya, termasuk kehormatan  Ummul  Mukminin, Aisyah.  Mereka yang terluka dan berlindung di rumah,  tak boleh diganggu.

Pascaperang Jamal  situasi politik dan keamanan kembali pulih. Namun  masih ada bara lain yang sewaktu-waktu siap meledak.  Sumbernya ada di Syam (sekarang Syiria), yang menjadi basis  Muawiyah bin Abi Sufyan. 

Ali berulangkali  membujuk dan menyurati Muawaiyah agar mau memberikan baiat-nya dan mengakui  kekhalifahan Ali demi persatuan umat. Namun  Muawiyah  berkilah macam-macam, dan minta kompensasi jabatan  atas pengakuannya kepada kepemimpinan Ali.  Tak  ada titik temu.

Kelak konflik Ali dan Muawiyah  pecah  menjadi Perang Shiffin. Namun  buku ini  belum sampai  ke situ. Abdurrahman  Asy Syarqawi   mengakhiri buku ini    dengan proses negosiasi alot antara kedua belah pihak.   Periode akhir kekhalifahan Ali  akan disajikan dalam buku  kedua.    

Karena disajikan dengan gaya penulisan novel,  buku setebal  504 halaman ini  mengalir dengan lancar, dan tak membuat  kening berkerut membacanya. Berbagai konflik  di tubuh umat, khususnya yang terjadi sejak masa kekhalifahan Usman,  disajikan dengan apik dan menarik.

Dari pemaparan dalam buku ini,  wawasan pembaca tentang sejarah Islam pasca-Rasulullah semakin bertambah.  Ketulusan  seorang Ali bin Abi Thalib   harus berhadapan dengan berbagai intrik politik dan taktik busuk mereka yang haus   harta dan kekuasaan. Ali yang  mendambakan persatuan  umat berhadapan dengan  lawan politik yang oportunis, yang mempolitisir kematian Usman sebagai amunisi untuk menentang kekhalifahan Ali.

Bagaimana  periode selanjutnya  dari kekhalifahan Ali? Kita tunggu saja  lanjutannya dalam buku berikutnya.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s