‘Otak Saya Sebagian Ada Sama Bakri’

Judul  buku: Suka Duka 28 Tahun Mengabdi Bersama Jenderal Besar A.H. Nasution

Penulis: Bakri A.G Tianlean

Penerbit:  Republika, 2010

Tebal: iv + 275 halaman

Duapuluh delapan  tahun bukanlah waktu yang sebentar.   Hanya orang yang setia saja  yang mau mengabdi hingga   panutannya wafat. Dan itu telah dilakoni  selama 28  tahun oleh Bakri A.G. Tianlean, Sekretaris Pribadi Jenderal Besar A.H. Nasution.

Banyak suka dan duka yang dialaminya selama 28 tahun mendampingi Pak Nas. Bakri mengaku,  tak banyak yang bisa diharapkan dari segi materi, mengingat Pak Nas sendiri hidupnya bersahaja, dan tidak berlimpahan materi.

Setelah  pensiun dari jabatan terakhir sebagai Ketua MPRS,  dan  pensiun dipercepat dalam usia 53 tahun sebagai perwira tinggi ABRI,  Pak Nas praktis hidup  mengandalkan diri dari uang pensiun.  Jadi Bakri sadar  tak bisa mengharapkan materi  yang besar   dari  posisi Sekretaris Pribadi Jenderal Besar A.H. Nasution.

Namun  selama 28 tahun itu dia banyak mendapat  pengalaman  berharga yang memperkaya batinnya..  Dia ikut menjadi saksi  berbagai gejolak  politik  yang  melibatkan panutannya itu.  Dia juga banyak  belajar tentang  kepasrahan diri kepada  Sang Pencipta, yang selalu dilakukan  Pak Nas di saat mendapat cobaan. 

Di saat mau mengambil keputusan, misalnya,  Pak Nas selalu melakukan salat istikharah terlebih dahulu. Dan hal itu selalu dianjurkannya kepada para teman, kerabat dan stafnya. Pak Nas juga mengajarkan untuk tidak menjadi pendendam sekalipun berulangkali difitnah.

Buku ini berisikan suka duka Bakri mendamping Pak Nas selama 28 tahun.   Sebagian  informasi yang terdapat di dalamnya      sudah  pernah ditulis di media massa. Namun ada pula yang  tidak diungkap  dengan tuntas dan  mendalam oleh media, khususnya untuk hal-hal sensitif yang terjadi  di masa orde baru. Isu triumvirat, misalnya.

Pada 1989, saat Presiden Suharto pulang dari kunjungan ke luar negeri,  dia sempat mengancam siapa saja  yang bermaksud  merebut kekuasaan dengan cara yang tidak konsitusional. Tak peduli jenderal, akan “digebuk” oleh  Pak Harto.

Menurut Bakri,  kegeraman Pak Harto itu dilatarbelakangi  informasi yang dia terima tentang adanya gerakan membentuk triumvirat,   yang terdiri  dari  Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, dan Menteri Pertahanan.  Wacana tersebut , ungkap Bakri,  digerakkan oleh Menteri Pertahanan Benny Murdani.

Informasi tentang  pembentukan triumvirat itu akhirnya sampai juga ke Pak Nas, saat dia tengah dirawat di RSPAD Gatot Subroto.  Sebagai bekas panglima, dia segera bergerak cepat  dengan mengutus  Bakri menemui seorang petinggi ABRI, Mayjen Sumargono, yang pernah menjadi ajudannya. Saat itu Sumargono menjadi asisten pribadi Mendagri Rudini.

Setelah menemui  Pak Nas, Sumargono diminta segera menemui Rudini untuk konfirmasi isu triumvirat. Rudini menjelaskan,  Benny Murdani  datang ke rumahnya  seorang diri tanpa didampingi  sopir dan ajudan.   Benny meminta  pembentukan triumvirat   dengan Rudini sebagai ketuanya.  Namun Rudini keberatan. Wacana tersebut mentah, dan Rudini mengatakan, “Bila  presiden berhalangan tetap,   wapres yang  meneruskan sisa pemerintahannya.” (hal 122)

Sebagai orang dekat dan kepercayaan Pak Nas, Bakri  juga banyak tahu  siapa saja orang  yang datang dan pergi ke kediaman Pak Nas di  Jalan Teuku Umar 40, Menteng, Jakarta.   Dengan niat baik ingin melindungi  panutannya dari orang-orang oportunis, dia berani memarahi siapa saja, termasu keluarga Pak Nas sekalipun, yang berniat  memanfaatkan jenderal besar itu untuk kepentingan pribadinya.

Sekali waktu, dia pernah memarahi   seseorang  yang terbilang keluarga Pak Nas, yang datang ke Teuku Umar 40  untuk mengingatkan staf Pak Nas akan adanya undangan dari Mabes ABRI untuk acara serah terima jabatan Panglima ABRI dari Edy Sudrajat   ke Feisal Tanjung, Mei 1993. 

Bakri  mengaku tidak respek kepada orang tersebut karena  telah lancang mengambil undangan tersebut ke Mabes ABRi dengan   mengatasnamakan Pak Nas.  Dia mencium   ada udang di balik batu. Sebab  yang bersangkutan punya kepentingan bisnis  di Mabes ABRI, CIlangkap. (hal 145)

Buku ini juga memuat informasi  yang cukup sensitif menyangkut  karir  perwira tinggi TNI. Bakri menceritakan,  sekali waktu dia diutus Pak Nas menghadap Panglima ABRi Feisal Tanjung. Setelah  masalah  utama disampaikan, dia juga menyampaikan satu amanat  dari Pak Nas menyangkut karir seorang perwira yang  mandek di pangkat  kolonel, sementara rekan sejawatnya sudah pada   jadi jenderal.

Menanggapi hal itu, Feisal mengungkapkan bahwa  perwira tersebut  belum mengikuti Sesko (sekolah staf komando) sehingga belum bisa naik jadi perwira tinggi.  Namun dia berjanji  amanat Pak Nas itu akan diperhatikannya.

Tak lama berselang,   perwira bersangkutan  mendapat promosi menjadi perwira tinggi (pati).  Karena punya kedekatan hubungan dengan Pak Nas, sang pati yang baru naik jadi Brigadir Jenderal itu menghadap Pak Nas untuk melaporkan kenaikan pangkatnya. Pak Nas sendiri  terkejut karena tanpa Sesko  pati tersebut bisa jadi bintang satu. (hal 155-156)

Buku ini bukan buku pertama menyangkut Jenderal Besar A.H. Nasution yang ditulis Bakri. Sebelumnya,  dia sudah menulis dua buku yang diterbitkan pada 1997. Pada  September 2001  dia kembali menulis catatan tentang pemikian jenderal besar tersebut. Namun buku tersebut  tidak beredar di pasaran, karena diedarkan di lingkungan Kodam, Korem dan Kodim seluruh Indonesia.

Sebagai sekretaris pribadi, orang dekat dan kepercayaan Pak Nas, Bakri  banyak makan asam garam   kehidupan politik pascalengsernya Pak Nas dari kekuasaan. Diinterogasi intel, bahkan  sampai ditahan,  kerap dialaminya.  Sebagai penandatangan Petisi 50, Bakri juga merasakan nasib yang sama dengan penandatangan lainnya, yang dimatikan hak-hak perdatanya oleh penguasa orde baru.

Namun, sesuai teladan panutannya, dia   tak mendendam, dan akhirnya   sejarah membuktikan adanya  perubahan sikap penguasa  dan petinggi ABRI di akhir kekuasaan orde baru  terhadap tokoh yang sempat dimusuhi seperti A.H. Nasution.

 Saking dekatnya  dengan jenderal besar tersebut,  Pak Nas mempercayakannya untuk menjawab pertanyaan wartawan.   “Otak saya sebagian ada sama  Bakri,” kata Pak Nas kepada wartawan,  yang diarahkannya untuk mewawancarai Bakri bila dia berhalangan.

  Pak Nas telah tiada. Rumahnya di Jalan Teuku Umar 40 sudah menjadi museum. Namun teladan dan karyanya  tak ikut punah, dan dari buku ini banyak yang bisa dipelajari dari perjalanan hidup seorang Jenderal Besar A.H. Nasution.

1 Komentar

  1. saya adalah pengagum Pak Nas.. buku ini memberikan Inspirasi baru, betapa mulyanya seorang Nasutiaon,..semoga Beliau diterima di sisi-Nya..amin..3X


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s