Dari Bandit Jadi Laskar

Judul buku: Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949

Penulis: Robert Cribb

Penerbit: Masup, Jakarta, 2010

Tebal: xvi +304 halaman

Jakarta 1945-1949.  Suasana revolusi  yang gegap gempita  membangkitkan  perlawanan rakyat di mana-mana.  Para pejuang dan  kaum nasionalis   berjuang bahu-membahu mempertahankan kemerdekaan  dari   niat penjajah yang ingin  kembali  bercokol  di negeri tercinta.

Selain  tentara, yang tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian berganti nama menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat), lalu TRI (Tentara Rakyat Indonesia), dan akhirnya menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia), ada pula perlawanan rakyat  yang berhimpun dalam laskar-laskar sipil bersenjata. Untuk wilayah Jakarta, yang terkenal adalah LRJR (Laskar Rakyat Jakarta Raya).

Penulis buku ini, Robert  Cribb,  mengangkat sepak terjang  LRJR  selama masa revolusi dulu.  Selain LRJR,  di wilayah lain,  seperti  Kerawang, dan Klender ,   ada pula laskar-laskar yang  dipimpin jagoan/jawara , dan anggotanya  kebanyakan dari dunia hitam,  seperti  perampok, begal  dan preman yang menguasai wilayah  tertentu.

Terkenal saat itu  nama-nama laskar  seperti   Barisan Pelopor  yang bersenjatakan bambu runcing,  Barisan Rakyat Indonesia yang dipimpin Haji Darip dari Klender, dan Barisan Benteng Republik Indonesia  yang dipimpin Dr Muwardi.

Laskar-laskar itu,  yang menjalin aliansi dengan kaum nasionalis,  mulanya  berjuang mengangkat senjata  melawan militer Belanda,   yang mencoba kembali menjajah   dengan membonceng tentara Sekutu.  Selain senjata tradisional,  para laskar   mendapat senjata hasil rampasan dari tentara Jepang.

Namun, tak  ada kawan sejati, begitu  pula di masa perjuangan. Beda   kepentingan  akhirnya membuat beberapa dari laskar tersebut  berbalik memusuhi  TNI, dan menyeberang membantu militer Belanda.

Mereka  yang membelot itu akhirnya dimanfaatkan militer Belanda, dilatih dan dipersenjatai, lalu dihimpun menjadi milisi yang diberi  nama HAMOT  (Hare Majesteits  Ongeregelde Troepen/Pasukan Liar Sang Ratu).  Tugasnya  mulai  dari memata-matai  pergerakan  TNI,   hingga  ikut bertempur  bersama  tentara Belanda.

Tapi tidak semua laskar  melacurkan diri seperti HAMOT. Ada pula yang bersedia  direkrut dan diintegrasikan ke dalam TNI.

Setelah penyerahan kedaulatan pada 1949,  mereka yang   masuk TNI  ada yang meneruskan karirnya  di militer. Salah satu yang terkenal adalah Imam Syafe’i , yang  di jaman orde lama  menjadi Menteri Negara Keamanana Rakyat. Namun  tidak sedikit diantara mereka  yang mengundurkan diri untuk kembali menjadi orang sipil.

Sementara eks HAMOT, ada yang kembali ke dunia hitam, kembali ke profesi lama sebagai  bandit dan preman. Yang tidak beruntung,  keburu tewas dalam pertempuran atau dibunuh  rakyat dan tentara   karena dianggap pengkhianat.

Semua sepak terjang laskar-laskar tersebut, berikut  pandangan politik pimpinannya yang  beraneka kepentingan, ditulis  dengan menarik di buku, yang mulanya berasal dari disertasi doktor Robert Cribb yang  berjudul “Jakarta  dalam Revolusi Indonesia  1945-1949”.

Menurut Cribb, selain menceritakan  sejarah koalisi  bandit Jakarta dengan kaum nasionalis muda berhaluan kiri  yang  penuh gejolak,  penulisan buku ini memiliki dua tujuan lain.  Pertama,  untuk  mengupas dasar sosial revolusi di Indonesia.

Revolusi  1945 yang juga melibatkan   dunia hitam Jakarta, kata Cribb,  merupakan  hal yang berbeda   dari kudeta lokal   berskala sempit  yang sering terjadi pada masa kolonial. Sebab perjuangan  nasional di pedalaman Jakarta sangat mirip   dengan  organisasi   sosial yang  melakukan   pemberontakan-pemberontakan   yang telah ada sebelumnya.

Kedua,   pembahasan buku ini  juga mengkaji hubungan yang  berkembang antara LRJR  dengan Republik yang baru terbentuk  selama masa revolusi.

Di awal revolusi,  kalangan dunia kriminal  di Jakarta adalah bagian penting  untuk mempertahankan   Republik  dan membentuk gambaran  sebuah negara bersatu melawan   ancaman kembalinya kolonialisme.

Namun, seiring  menguatnya  institusi pemerintahan, kebutuhan  terhadap kalangan dunia  kriminal  semakin berkurang  hingga akhirnya  mereka  tidak dibutuhkan lagi.  Saat itu,  keberadaan Republik  disertai  keinginan   untuk mendapatkan   status  dan hak prerogatif   dari pemerintah kolonial  serta  hendak menarik  garis  perbedaan  yang jelas antara  kemerdekaan dan dominasi kolonial. (hal 2-3)

Cribb mengingatkan, revolusi di Jakarta  bukanlah  sebuah fenomena lokal. Dengan mempelajari  wilayah  Jakarta dan sekitarnya,  serta bandit-bandit  yang hidup di sana,  dia berharap pembaca   bisa memahami  sedikit lebih banyak   mengenai revolusi itu sendiri   secara keseluruhan.

Jauh sebelum Cribb menulis buku ini,  sudah ada beberapa buku  tentang revolusi Indonesia, yang juga mengakui  keberadaan para laskar tersebut.  Novel “Jalan  Tak Ada Ujung” karya Mochtar Lubis, misalnya,  menggambarkan suasana revolusi   di  Bekasi,   yang menjadi salah satu markas   bandit di awal revolusi. Cribb mengaku,  novel itulah yang memperkenalkan dirinya dengan  para bandit di masa revolusi.

Kehadiran buku ini bisa memperkaya  pengetahuan dan wawasan pembaca tentang suasana revolusi yang bergolak di Jakarta.  Suka tidak suka, para laskar itu sudah ikut berjuang   walau dengan motif yang bermacam-macam.  Meski akhirnya ada yang bersimpang jalan dengan Republik, tapi ada juga yang  mendapat pengakuan sebagai pejuang  kemerdekaan. Siapa yang ikut Republik dan siapa yang  membelot, semuanya dibahas dalam buku ini.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s