Cak Nur Sang Visioner

Judul buku: Api Islam Nurcholish Madjid: Jalan Hidup  Seorang Visioner

Penulis: Ahmad  Gaus AF

Penerbit: Penerbit Buku Kompas, 2010

Tebal:   xiii + 382 halaman

Berani melawan arus! Hanya  orang pilihan  yang  sanggup melakukannya.  Mereka   rela  dihina, dicaci maki, dicemooh, bahkan difitnah  karena memperjuangkan visi  yang  mereka yakini kebenarannya.

Tak banyak orang seperti itu.  Untuk Indonesia,     Nurcholish Madjid salah satunya.  Perjalanan hidup  Cak Nur,  seperti  yang  ditulis Ahmad Gaus dalam buku ini,  memang   berani melawan arus, dan banyak yang menganggapnya  kontroversial.

Betapa tidak.  Dia lahir dari  keluarga pendukung Masyumi. Ayahnya  seorang santri K.H. Hasyim Asy’ari. Jadi  sudah pasti  bisa dikategorikan   sebagai warga Nahdlatul  Ulama (NU).  Tapi di bidang politik  sang ayah  pendukung Masyumi karena berpegang pada fatwa K.H Hasyim Asy’ari tentang  Masyumi  sebagai partai  politik Islam.

Namun Cak Nur sendiri  tak akur dengan para tokoh Masyumi,  yang  menentang pemikirannya tentang pembaruan Islam, dan pandangan politiknya yang terkenal dengan slogan “Islam Yes, Partai Islam No”.

Tapi jalan hidup  Cak Nur  seolah   ditakdirkan untuk menjadi  tokoh yang kontroversial. Bila pada awal 70-an dia  melontarkan slogan “Islam Yes, Partai Islam No”,  pada pemilu 1977 dia khusus  pulang  dari  AS ke Jakarta untuk “memompa ban kempes”.

Tanpa  rekayasa dan paksaan dari siapa pun, dengan  suka rela  dia  berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang saat itu menganut azas Islam.     Keputusannya itu seakan bertentangan dengan slogan “Islam Yes, Partai Islam No”. Namun dia punya argumen perlunya keseimbangan dalam berpolitik, sehingga  dia  memilih untuk berkampanye bagi PPP.

Sebagai  mantan aktivis dan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI),   saat itu Cak Nur berani melawan arus  dengan mendukung PPP, disaat banyak mantan aktivis  HMI mendukung Golkar sebagai partai  penguasa.

Di HMI sendiri  nama Nurcholish Madjid  terbilang harum karena dialah penyusun  NDP (Nilai-nilai Dasar Perjuangan), yang menjadi bahan training kader-kader HMI. Dia juga satu-satunya  Ketua Umum HMI yang menjabat dua periode. Sebelum dan setelah  kepemimpinannya, tak ada lagi  Ketua Umum HMI yang menjabat dua periode.

Buku ini  merupakan biografi Nurcholish Madjid, yang  memaparkan riwayat hidupnya sejak   kecil, saat nyantri  di Pesantren Rejoso dan Gontor;  merantau ke Jakarta untuk kuliah di IAIN  Syarif Hidayatullah, menjadi  mahasiswa aktivis dan  memimpin HMI; hingga berumah tangga, kuliah di AS, mendirikan  Paramadina,  memutuskan menjadi calon presiden,  dan  akhir hayatnya.

Banyak kisah menarik  yang tersaji dalam buku ini. Ketika pulang ke Indonesia setelah meraih gelar Ph.D dari Chicago University, AS,   pada 1984, ratusan orang  menjemput kedatangan Cak Nur dan keluarga di Bandara Halim Perdanakusuma.  Suasananya persis seperti menyambut kedatangan jemaah haji.

Kepulangan Cak Nur  dari  menimba ilmu di AS menjadi babakan baru dalam kehidupannya.  Dia bersama  teman-teman  dekatnya  mendirikan Paramadina,  sebuah yayasan  yang terkenal dengan Klub Kajian Agama-nya.

Kelak, pada dekade 90-an, Paramadina berkembang menjadi  universitas, dimana Cak Nur yang menjadi rektor pertamanya.

Buku ini juga mengungkap keterlibatan  Cak Nur dalam reformasi. Meski  tidak  melakukan orasi dari kampus ke kampus seperti tokoh-tokoh lainnya, peran Cak Nur  dalam reformasi tak bisa disepelekan.

Ketika  diminta  menemui  mantan Presiden Soeharto di Jalan Cendana,   18  Mei  1998, dengan lugas dia mengatakan,”Reformasi itu artinya  Pak Harto turun.”

Hal itu diutarakannya menjawab pertanyaan Soeharto,” Reformasi itu apa, sih, Cak Nur?”

Soeharto lalu   mengatakan bahwa ia akan segera mengumumkan pengunduran dirinya. “Kapan?” tanya Cak Nur

“Besok,”  jawab Soeharto.

Namun sebelum mengumumkan pengunduran dirinya, Soeharto berencana bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat.

Pertemuan itu berlangsung pada 19 Mei 1998.  Ada 9 tokoh yang bertemu Soeharto, antara lain Cak Nur, Gus Dur, Malik  Fajar, dan Emha Ainun Najib. Dalam pertemuan itu Soeharto melontarkan gagasan pendirian Komite Reformasi.  Karena  tidak setuju dengan ide tersebut, Cak Nur minta agar mereka tidak dilibatkan  dan dijadikan anggota dari Komite tersebut.

Rupanya Soeharto  tak putus asa. Dia terus membujuk Cak Nur untuk terlibat di komite  itu. Mulanya ditawarkan sebagai ketua. Karena ditampik, lalu  diturunkan  jadi  anggota. Cak Nur tetap tidak mau.

Soeharto terus mendesak Cak Nur hingga  20 Mei  jam 7 malam.  Karena  Cak Nur  tetap tidak mau,  akhirnya  Soeharto benar-benar menyerah.

“Jika orang yang  moderat seperti Cak Nur tak lagi mempercayai saya,   maka sudah saatnya   bagi saya untuk mundur,” tegasnya. (hal 275-278).

Bisa dimengerti bila Soeharto saat itu benar-benar putus asa, karena  beberapa saat sebelumnya  beberapa   menteri di kabinetnya, dimotori Menko Ekuin Ginanjar Kartasasmita,  mengajukan pengunduran diri.  Ditambah penolakan Cak Nur untuk terlibat di Komite Reformasi, makin  mempercepat  keputusan penguasa orde baru itu untuk mengundurkan diri karena merasa sudah tak dipercaya lagi, baik oleh pejabat maupun rakyatnya sendiri.

Dari paparan    buku ini juga  pembaca  bisa tahu ada sebuah cita-cita Cak Nur yang belum kesampaian, yakni mendirikan masjid yang akan diberi nama Madinatul Umran, yang berarti peradaban kertaraharja.  Sayangnya, hingga dia menutup mata pada 29 Agustus 2005, masjid itu tak kunjung berdiri. Bahkan peletakan batu pertamanya pun belum dilakukan.

Cak Nur telah tiada. Namun  pemikiran dan buah dari kerja kerasnya  masih  ada. Kita boleh tak sepakat dengan pemikirannya. Namun  janganlah menanggapinya dengan caci maki apalagi fitnah, yang jelas-jelas  bertentangan   dengan akhlak Islam.

Bila setuju dengan buah pikirannya,  beri apresiasi.   Tak setuju,  beri  argumen yang  meyakinkan.

1 Komentar

  1. salut


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s