Sekolah di “Atap Dunia”

Judul Buku: Stones into Schools

Penulis:  Greg Mortenson

Penerbit: Hikmah, 2010

Tebal: xxiv + 475 halaman

Letaknya di Bozai Gumbaz, sebuah pemukiman di Koridor Wakhan, timur Afghanistan, yang dihuni penduduk nomaden Kirghiz.  Tempatnya  amat terpencil, bisa dibilang sebagai “ujung dunia”. Untuk ke sana harus melewati Pegunungan Pamir Asia  Tengah, yang dijuluki “Atap Dunia”, yang membentang antara Afghanistan, Tajiistan, Cina.

Bila musim dingin tiba,  tempat itu makin terisolir karena transportasi terputus akibat  cuaca ekstrem. Praktis saat itu penduduknya  putus  hubungan   dengan dunia luar.

Pejabat berwenang di Afghanistan sendiri banyak yang  tak tahu bila  ada rakyatnya yang bermukim di sana.  Konon mereka hanya datang untuk keperluan pemilihan presiden. Apalagi kalau bukan untuk mendapatkan dukungan. Tapi setelah itu tak ada lagi  perhatian kepada suku Kirghiz yang bermukim di sana. Bahkan ada pejabat yang berpendapat Bozai Gumbaz sudah masuk wilayah Cina.

Di sanalah  Central Asia Institute (CAI) , sebuah LSM yang   mengemban misi pendidikan    bagi para gadis di Pakistan dan Afghanistan, membangun sebuah sekolah mungil pada 2009.

Dibutuhkan proses  yang panjang dan perjuangan berat untuk membangun sekolah di “Atap Dunia”.  Penulis buku ini, Greg Mortenson, seorang aktivis CAI, telah diminta  suku Kirghiz untuk membangun sekolah sejak 1999. Namun berbagai kesibukan dan kendala membuat CAI   baru bisa merealisasi pembangunan sekolah itu satu dekade kemudian.

Buku ini adalah sekuel dari  novel best seller Three Cups of Tea. Bila   Three Cups of  Tea berisi memoar Gregg tentang perjuangannya membangun sekolah di daerah-daerah  terpencil di Pakistan, buku ini   menceritakan perjuangannya bersama aktivis CAI  membangun sekolah di berbagai daerah di Afghanistan.

Isinya tak hanya menceritakan  proses  panjang dan berat membangun sekolah di negara  yang porak poranda  dilanda perang tak berkesudahan itu.  Berbagai peristiwa penting lain yang dialami Greg juga dituangkannya dalam buku ini.

Gempa besar yang melanda   Azad Kashmir, Pakistan, pada Oktober  2005, misalnya, menjadi  kisah tersendiri  dari buku ini.  Gempa besar itu banyak menelan korban jiwa, dan meluluhlantakkan  berbagai bangunan, termasuk sekolah.

CAI yang sudah  berkiprah membangun sekolah di  Pakistan  sejak 1993 tak tinggal diam.  Mereka menggalang dana dari  para donatur di AS, lalu  bergerak membangun kembali sekolah yang hancur.

Semula   pengurus sekolah yang akan dibangun pesimis  dengan rencana pembangunan kembali. Namun  berkat perjuangan gigih tak kenal menyerah dari para aktivis  CAI, sekolah  bernama  Gundi  Piran Higher  Secondary School for Girls, yang hancur lebur  bisa dibangun kembali.

Kelak  perjuangan gigih tanpa pamrih Greg membangun sekolah di Pakistan diganjar   Sitara-e-Pakistan,  penghargaan sipil tertinggi Pakistan, yang diberikan langsung oleh Presiden Pervez Musharraf pada 2009.

Kembali ke pembangunan sekolah di Afghanistan,   sekolah pertama yang dibangun  CAI di sana  terletak di   Lalander, sebuah desa di selatan Kabul, ibu kota negara tersebut.

Dalam perjuangannya membangun sekolah di Afghanistan, Greg banyak dibantu Sarfraz Khan dan  Wakil, dua orang penduduk Pakistan, serta dua mantan Mujahidin Afghanistan, Wohid Khan dan Sadhar Khan.

Para mitra Pakistan dan Afghanistan ini besar jasanya dalam  proses pembangunan sekolah di negara yang sempat dikuasai Taliban. Mulai dari mengurus perizinan yang cukup birokratis, hingga  pekerjaan lapangan yang berat  seperti mengantar material yang   harus melalui medan berat , bahkan  ada pula medan yang bisa dibilang “daerah tak bertuan”, mereka  kerjakan dengan penuh semangat.

Karena  Afghanistan sejak  tumbangnya Taliban berada di bawah  kontrol  AS, mau tak mau interaksi dengan militer AS tak bisa dihindarkan. Namun respon mereka sangat positif dan mendukung  perjuangan CAI membangun sekolah di negara tersebut.

Tak sedikit di antara personel tentara AS yang bertugas di sana sudah membaca Three Cups of Tea, sehingga wawasan mereka  tentang perlunya pendidikan, khususnya untuk anak perempuan, makin bertambah.  Umumnya para petinggi militer AS di Afghanistan satu visi dengan Greg tentang pentingnya pendidikan untuk meredam  radikalisme, sekaligus menciptakan perdamaian.

Berkat perjuangan gigih Greg bersama para mitra lokalnyan, selama kurun    16 tahun  telah berdiri  131 sekolah  CAI di Pakistan dan Afghanistan. Dari jumlah sebanyak itu,   yang paling terpencil adalah sekolah  yang mereka dirikan bersama suku Kirghiz Wakhan, di sebuah lereng  berumput  di sebelah danau dangkal  di pusat Bam – I – Dunya (Atap Dunia),  yang berketinggian 3.804 meter.

Greg mengaku, selain sekolah pertama CAI di desa Korphe, Pakistan, sekolah  di Bozai Gumbaz, Afghanistan itu merupakan sekolah yang paling  dekat di hatinya.

Alasannya, terkecuali dua sekolah itu, tak ada sekolah   lain yang dipahat  secara begitu langsung   dan begitu jelas  dari fondasi harga diri dan martabat manusia.  (hal 450)

Disamping    karena kegigihannya, apresiasi juga perlu diberikan kepada Greg dan para mitranya di CAI karena selama 16 tahun membangun sekolah di Pakistan dan Afghanistan, mereka  tak pernah menggunakan sedolar pun   uang pemerintah AS  atau dana USAID . (hal 469)

Mereka banyak dibantu para donatur dan dermawan yang bersimpati atas perjuangan  mereka, mulai dari wakil rakyat dan senator, hingga  masyarakat awam.   Selama 16  tahun itu  Greg berhasil membangun jaringan dan lobi di AS, Pakistan dan Afghanistan.

Greg menutup bukunya dengan harapan Stones into Schools bisa  menjadi  katalis  untuk    memberantas buta huruf  di seluruh dunia  dan memberi pendidikan bagi  semua anak,  yang dua pertiga diantaranya adalah anak perempuan.  (hal 465)

Sebuah misi  mulia yang  harus didukung semua pihak yang menghargai pentingnya pendidikan demi  terciptanya perdamaian dunia.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s