Jenderal, Tokoh Pencak Silat, dan Rektor Kampus Kuning

Judul buku: Jenderal Tanpa Angkatan

Memoar Eddie M. Nalapraya

Penulis: Ramadhan KH, Iskadir Chotob, Feris Yuarsa

Penerbit:  Zig Zag  Creative, 2011

Tebal: xvi + 268 halaman

Nama Eddie M.  Nalapraya lekat dengan dunia pencak silat.  Dipercaya sebagai Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)  dan Presiden Persilat  selama beberapa periode, namanya seakan identik dengan bela diri asli Indonesia tersebut.

Pensiunan Mayor Jenderal itu berjasa memajukan pencak silat sehingga dikenal  di dunia internasional. Atas pengabdiannya, pemerintah menganugerahinya  Bintang Mahaputra Pratama pada 2010.

Bukan hanya itu aktivitas kemasyarakatan  yang dia geluti.   Sebagai pendiri  Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), Eddie juga dianugerahi gelar sebagai  Bapak RAPI. Dan sebagai penggemar musik dangdut, mantan Ketua Umum Badan Musyawarah (Bamus)   Betawi itu berperan  dalam  mengupayakan tayangnya dangdut di TVRI beberapa dekade lalu.

Di kalangan aktivis 77/78, nama  Eddie terbilang harum dan simpatik. Sebagai Asisten I/Intel Kodam Jaya,  Eddie-lah  yang bertugas menangkap para  aktivis tersebut. Namun dia tak memperlakukan  mereka dengan kasar, apalagi  sampai menyiksa.  Para aktivis itu ditangkap  untuk dibina lalu dilepas kembali.  Dia memperlakukan  mereka seperti  orang tua terhadap anaknya  yang nakal.

Tak heran  bila  para aktivis menaruh hormat kepada pria kelahiran Tanjung Priok.  Bahkan ada yang  bersedia menyerahkan diri padanya.

Aktivis 77/78 menjulukinya sebagai Rektor Kampus Kuning.  Sejatinya tak ada Kampus Kuning dalam khazanah dunia pendidikan Indonesia. Nama tersebut merujuk pada tempat tahanan di markas Batalyon Infanteri 202 Taji Malela di Bekasi.  Banyak aktivis yang ditangkap Eddie ditahan di sana. Atas inisiatifnya, tempat tahanan itu dicat kuning, sehingga para aktivis  menjulukinya  Kampus Kuning, dan dia didapuk sebagai rektornya.

Hubungan baik Eddie dengan para aktivis terus berlanjut hingga kini. Meski sudah lama pensiun,  dia selalu diundang setiap kali acara reuni aktivis 77/78. Kepada mereka, Eddie berpesan untuk terus berpikir dan bersikap kritis seperti  dulu saat   masih jadi aktivis.

Buku ini merupakan memoar Eddie Nalapraya, yang berisikan kisah hidupnya sejak kecil hingga  sepuh.  Sebagai  militer, pria tersebut sudah angkat senjata  sejak usia belasan tahun dengan bergabung di Tentara Pelajar  Tasikmalaya.

Selama  berkarir di dunia militer,  Eddie  mengalami berbagai penugasan penting seperti  operasi militer menumpas PRRI/Permesta dan DI/TII.  Dia juga  ikut tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian Garuda II, yang bertugas di Kongo.

Setelah peralihan rezim dari Orde Lama ke Orde Baru, Eddie dipercaya menjadi Komandan Kawal Pribadi Presiden Soeharto.

Tugas berikutnya adalah di bidang intelijen dengan menjadi Asisten I/Intel  Kodam Jaya. Sosok  Eddie yang  luwes dan pandai bergaul membuatnya bisa merangkul  berbagai kalangan dan membuatnya menjadi intel yang tidak seram, namun disegani.

Pergaulannya yang luas membuatnya dikenal   berbagai kalangan,   termasuk  aktivis  seperti  Amir Biki, yang   tewas dalam peristiwa Tanjung Priok, 1984.

Pada saat itu, meski sudah dikaryakan sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Eddie-lah tokoh yang  berinisiatif mengembalikan jenazah Amir Biki  kepada keluarganya. Sebuah tindakan yang terbilang berani di saat banyak  pihak  masih  dilanda kebingungan atas terjadinya peristiwa yang banyak menelan korban itu.

Pribadi Eddie Nalapraya yang  berani, luwes dan tegas patut diteladani.  Setelah terjadi peralihan  rezim dari orde baru ke reformasi,  di saat banyak  bekas petinggi dilupakan orang, namanya tetap harum  dan disegani.  Itu adalah buah dari  pengabdiannya yang tulus dan simpatik selama  bertugas.

Kepribadian Jenderal  seperti Eddie yang  suka bergaul dan bermasyarakat pantas ditiru  para perwira yang masih bertugas.

1 Komentar

  1. tau ga cari bukunya dmn??


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s