Rebutlah Hati dan Pikiran Rakyat

Judul buku: Timor Timur The Untold Story

Penulis: Kiki Syahnakri

Penerbit: Penerbit Buku Kompas, 2012

Tebal: xliv + 436 halaman

KIKI

Kesaksian pelaku sejarah jauh lebih bernilai daripada komentar pengamat. Pelaku sejarah   terlibat langsung  dalam sebuah peristiwa.   Sementara pengamat hanya  bisa mengomentari dari kejauhan.

Timor Timur (Timtim) sudah jadi sejarah.  Bekas provinsi ke-27  itu sudah jadi negara merdeka bernama Timor Leste.

Banyak darah dan air mata yang tumpah selama 23 tahun integrasi Timtim. Banyak pula anak bangsa yang gugur.

Apa yang diutarakan  Letnan Jenderal Purnawirawan Kiki Syahnakri  dalam buku ini  merupakan kesaksian  seorang pelaku sejarah  yang  menyaksikan  langsung proses bergabungnya Timtim ke Indonesia hingga proses referendum  yang  berujung  lepasnya Timtim dari NKRI.

Kiki   menyaksikan langsung datangnya  para pengungsi Timtim ke Timor Barat pada 1975.  Dia juga yang memerintahkan  tembakan mortir untuk membalas  mortir yang ditembakkan  Fretilin,  yang jatuh  di wilayah Timor Barat. Itulah tembakan pertama yang dilepaskan  prajurit  ABRI (TNI)   ke wilayah Timtim.

Tahun 1999, selaku Panglima  Penguasa Darurat Militer,  dia juga  menyaksikan langsung proses referendum dan berpisahnya Timtim dari NKRI.

Jarum jam sejarah  tak bisa diputar ulang. Timtim  telah jadi  negara merdeka. Yang dulu lawan sekarang jadi kawan.

Tak ada guna  menengok ke belakang. Lebih arif dan bijak untuk menatap ke depan guna membangun hubungan bilateral dan bertetangga baik antara Indonesia dan Timor Leste.

Lepasnya Timtim harus dijadikan pelajaran  bagi pemerintah untuk tidak mengulangi kesalahan sejarah. Bagi Kiki,  Timtim lepas  karena pemerintah gagal merebut hati dan pikiran  rakyat  Timtim.

Operasi militer yang dilakukan ABRI  memang berhasil melumpuhkan kekuatan militer musuh, dan menangkap tokoh utamanya seperti Xanana Gusmao.

Namun itu  tidak  cukup efektif untuk membungkam perlawanan   di bumi Loro Sae.  Karena pemerintah gagal merebut  hati dan pikiran rakyat Timtim, maka benih perlawanan   terus tumbuh.

Itulah pelajaran terpenting dari lepasnya Timtim.  Dan itu bukan mustahil bisa terulang lagi di  daerah konflik seperti  Papua jika pemerintah gagal merebut hati dan pikiran rakyat.

Buku ini merekam perjalanan karir Kiki Syahnakri  sejak  berpangkat Letnan Dua hingga pensiun sebagai Letnan Jenderal.

Berulangkali ditugaskan  di Timtim membuatnya  paham adat istiadat, budaya dan bahasa setempat. Itu menjadi modal berharga dalam interaksi dan pergaulan  mantan Wakil KSAD   dengan masyarakat Timtim.

Berbekal  pemahaman tentang adat istiadat, budaya dan bahasa Timtim, Kiki berhasil meraih simpati berbagai kalangan, mulai dari prajurit, pemuda, birokrat dan rohaniwan.

Para prajurit yang ditugaskan di daerah konflik  perlu  membaca buku ini  dan belajar dari sosok Kiki yang terbuka, tegas, dan mau beradaptasi  dengan tradisi lokal. Bahkan dia juga mau  belajar bahasa Tetun  dan menguasainya dengan fasih.

Kemampuan   tempur  harus juga diimbangi dengan kecerdasan emosional.  Prajurit yang hanya bisa bertempur tanpa  punya kecerdasan  emosional  hanya  akan menjadi mesin perang.  Untuk bisa merebut  hati dan pikiran rakyat diperlukan kecerdasan emosional   guna menangkap apa maunya rakyat.

Jangan menganggap rakyat itu bodoh  dan gampang ditindas dengan todongan senjata.  Mereka  sudah cerdas  dan ingin aspirasinya  didengar.

Rebutlah hati dan pikiran rakyat, niscaya mereka akan mengenang prajurit sebagai pahlawan di hati mereka.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s