Kucing pun Sayang pada Buya Hamka

Judul     : Ayah…

Kisah Buya Hamka

Penulis : Irfan Hamka

Penerbit: Republika Penerbit, 2013

Tebal     : xxviii + 324 halaman

HAMKA

Tak banyak ulama yang multi talenta. Satu dari yang sedikit itu adalah Buya Hamka. Selain ulama, Buya juga seorang sastrawan, wartawan, pejuang kemerdekaan dan politisi.  Tapi mungkin tak banyak yang tahu kalau Buya juga seorang pendekar.

Buku ini, yang ditulis putra kelima Buya, Irfan Hamka,  menggambarkan sosok Buya sebagai ulama multi talenta itu. Begitu juga dengan  kemampuan  Buya bersilat,  yang mampu melumpuhkan seorang penodong di Cipanas.

Ceritanya,  dalam perjalanan    dari Bandung ke Jakarta, bus yang ditumpangi Buya dan Irfan singgah di Cipanas untuk  beristirahat. Setelah  salat,  mereka  pun kembali ke bus. Dari arah berlawanan,  datanglah tiga orang mencurigakan.

Buya, kata Irfan, sudah punya firasat bahwa ketiga orang itu  bermaksud buruk.  Benar saja, ketika berpapasan salah seorang diantaranya menodongkan pisau ke leher Buya. Tapi dengan sigap Buya  bisa menangkis dan  melumpuhkan si penodong itu , lalu menyerahkannya ke pihak berwajib.

Karena  sibuk mengurusi si penodong, Buya dan Irfan   ditinggal bus  yang sudah berangkat. Untung saja mereka dapat tumpangan ke Jakarta.

Banyak hal bisa diteladani dari sosok Buya Hamka. Jiwa besarnya, salah satunya. Semasa hidup paling tidak ada tiga  orang yang  berseberangan dengan Buya. Namun  Buya memaafkan ketiga orang itu bahkan  dua diantaranya dilepas kepergiannya dengan ikhlas oleh Buya.

Semasa orde lama, Buya sempat ditahan oleh rezim Sukarno dengan tuduhan  terlibat upaya pembunuhan penguasa orde lama itu. Setelah rezim berganti,  Buya dibebaskan. Namun dia tidak dendam kepada Sukarno. Buya  malah  bersyukur karena selama di tahanan bisa menyelesaikan buku Tafsir Al Azhar.

Di akhir usianya Bung Karno berwasiat agar Buya Hamka  yang  memimpin salat jenazah. Wasiat itu dijalankan dengan ikhlas oleh Buya meski ada pihak yang   menentangnya.

Lawan politik Buya lainnya semasa  orde lama adalah Muhammad Yamin. Meski keduanya sama-sama berasal dari Sumatera Barat, namun pandangan politiik mereka  berseberangan.  Ketika terjadi perdebatan soal dasar  negara di Konstituante, Buya yang  tergabung dalam Fraksi Masyumi mendukung  Islam sebagai dasar  negara. Sementara Yamin yang berasal dari Fraksi Partai Nasional Indonesia mendukung Pancasila sebagai dasar  negara.

Rupanya perbedaan pendapat di antara keduanya begitu tajam sehingga  Yamin  kerap  berbicara miring tentang Buya. Namun Hamka tak mempedulikannya.

Di pengujung usianya, Yamin menderita sakit parah sehingga  harus dirawat di rumah sakit. Ketika itu  Yamin    berwasiat    agar    bila dia meninggal jasadnya    dimakamkan di kampung halamannya di Talawi, Sumatera Barat. DIa juga punya permintaan khusus agar   Hamka ikut mengiringi pemakamannya di Talawi.

Ketika pesan Yamin disampaikan kepadanya, Hamka dengan ikhlas datang menjenguk Yamin di rumah sakit.  Dia juga  turut menyaksikan saat Yamin  mengembuskan nafas terakhir.  Dan sesuai wasiat Yamin, Buya Hamka  turut mendampingi keberangkatan jenazah   Yamin dari  Jakarta   ke kampung  halamannya di  Talawi.

Orang ketiga yang tercatat pernah memusuhi Buya dan dia maafkan adalah Pramudya Ananta Toer. Semasa orde lama, melalui koran yang berafiliasi ke PKI, Pramudya kerap melontarkan serangan ke Buya.  Salah satu pembunuhan karakter yang dilakukan  adalah menuduh Buya seorang plagiat.

Ketika    salah seorang puterinya hendak menikah dengan seorang pria nonmuslim,  Pramudya mengalami dilema. Dia menginginkan   punya menantu yang seiman dengan puterinya. Dia lalu menyuruh puterinya dan  calon suaminya tersebut untuk menemui   Buya Hamka  guna belajar agama Islam.

Ketika kedua calon pengantin  itu menemui  Buya, dia menerima mereka dengan  tangan terbuka. Tak ada dendam, meski  ayah calon  pengantin putri adalah orang yang memusuhinya  di masa orde lama.

Selain  berjiwa besar,  Buya juga  punya  rasa kemanusiaan yang tinggi. Bukan saja terhadap sesama manusia,   dengan binatang pun Buya menyayanginya.

Sekali  waktu, ada seekor  anak kucing yang terlantar datang ke rumah Buya. Oleh Buya, kucing  jantan itu  dirawat dan dipelihara dengan penuh kasih sayang. Seakan tahu balas kasih, kucing yang dinamakan Si Kuning itu  membalas kebaikan tuannya dengan  kesetiaan.

Setiap kali  Buya pergi salat ke Masjid Al Azhar, Si Kuning pun turut  ke masjid. Kucing yang setia itu selalu berjalan di depan tuannya.  Setelah Buya masuk masjid, dengan setia dia menunggu di depan teras masjid.

Usia Si Kuning terbilang panjang umur. Irfan memperkirakan  umur kucing itu  mencapai 25  tahun.  Dia  menghilang setelah tuannya meninggal pada 1981. Rupanya  antara Si Kuning dan Buya seakan ada kontak batin. Setelah Buya wafat,  Si Kuning pun    ingin menyusul tuannya.

Dari seorang jemaah Masjid Al Azhar  yang berziarah ke makam Buya tak lama setelah dia wafat, Irfan mendapat informasi bahwa jemaah itu menemukan   Si Kuning ada  di makam Buya. Rupanya    kucing setia itu  juga berziarah ke makam tuannya.

Buya  Hamka telah tiada. Peninggalannya  yang masih ada adalah karya-karya tulisnya, seperti novel, roman,   dan Tafsir Al Azhar . Selain mewariskan buku, Buya juga  meninggalkan teladan yang patut ditiru umat.

Jadilah pemaaf dan sayangilah  sesama makhluk Allah, sebagaimana  yang dicontohkan   Buya Hamka.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s