Tiga tahun lagi duaribu duabelas
dunia heboh isu kiamat.
Banyak yang panik bersampur was-was
segeralah tobat supaya selamat.

Tiga tahun lagi duaribu duabelas
dunia heboh isu kiamat.
Banyak yang panik bersampur was-was
segeralah tobat supaya selamat.
Di satu negara
para penegak hukum tak seia sekata
terjadi silang sengketa
mereka berperkara
ada pula yang dijadikan tersangka
Akhirnya turun tanganlah baginda
dibentuklah tim pencari fakta
mereka panggil semua pihak yang bersengketa
digali dan didapat berbagai fakta
Rekomendasi pun diberikan kepada baginda
setelah dipelajari dan ditelaah, dia akan mengeluarkan titahnya
tapi dia tak mau dipaksa
bersabarlah para punggawa dan kawula
jangan mendesak dan memaksa baginda
tunggu saja titahnya
semoga baginda bisa membereskan segala silang sengketa
dan menjadikan hukum sebagai panglima
Bagi seorang jurnalis, meliput daerah konflik adalah tantangan yang harus ditaklukkan. Bukan hanya demi menjalankan tugas, tapi juga untuk mengasah keterampilan mencari berita di tengah kondisi yang bergejolak.
Program acara Zona Merah di TV One menayangkan liputan jurnalis tv berita tersebut dari wilayah konflik di berbagai negara, seperti Darfur di Sudan, dan Mindanao di Filipina Selatan.
Dari beberapa episode yang sudah tayang setiap Senin malam, pola penayangan hampir seragam. Dimulai dengan laporan perjalanan menuju negara tujuan, menemui narasumber dan mewawancarainya, lalu berangkat ke wilayah konflik.
Di lokasi konflik, pengambilan gambar didominasi oleh gambar-gambar tentara atau gerilyawan bersenjata, yang tengah siaga dan siap tempur setiap saat.
Ada pula gambar para pengungsi, yang tinggal di kamp pengungsi seperti di Darfur. Ditayangkan juga kamp-kamp militer seperti milik MNLF (Front Nasional Pembebasan Moro) di Jolo, Mindanao. Tentu saja ditambah dengan wawancara bersama narasumber tertentu.
Saat di Darfur, misalnya, wawancara dilakukan dengan Kombes Jhoni Asadoma, Komandan Polisi Indonesia yang tergabung dalam pasukan pemelihara perdamaian PBB.
Sementara di Mindanao, wawancara dilakukan dengan Ustad Hader Malik, komandan kamp MNLF di Jolo, yang menjadi buronan militer Filipina. Entah apa perasaan tentara Filipina bila mereka melihat tayangan tersebut. Sebab ada jurnalis asing yang bisa masuk ke sarang musuh, dan mewawancarai orang yang mereka cari selama ini.
Selain Hader Malik, TV One juga mewawancarai Nur Misuari, mantan pemimpin MNLF yang sekarang menjadi politisi di Manila, serta seorang profesor, yang menjadi orang kepercayaan Misuari di Zamboanga.
Selain keberanian si jurnalis masuk ke wilayah konflik, hal lain yang patut diacungi jempol adalah penayangan gambar yang tidak ditutup-tutupi. Saat di Jolo, misalnya, wajah Hader Malik, serta para gerilyawan dan simpatisan MNLF lainnya ditayangkan secara terbuka. Tak ada yang memakai penutup wajah, atau berbagai bentuk penyamaran lainnya.
Entah karena pertimbangan keamanan, atau karena keterbatasan waktu, liputan di wilayah konflik itu terasa singkat. Setelah wawancara dan pengambilan gambar, si jurnalis dan juru kamera meninggalkan lokasi untuk kembali ke ibu kota negara bersangkutan.
Sebagai sebuah acara baru, Zona Merah cukup menarik untuk ditonton karena isinya laporan langsung dari wilayah konflik, yang selama ini jarang diliput media. Pemirsa bisa menyaksikan tayangan tentang kondisi di wilayah konflik itu, serta wawancara dengan pihak yang bertikai.
Saat liputan di Filipina, selain mewawancarai pihak MNLF, jurnalis TV One juga mewawancarai komandan militer Filipina di Zamboanga. Dengan demikian, prinsip cover both sides tetap terjaga, sehingga beritanya tetap berimbang.
Sayangnya, penguasaan si jurnalis atas peta konflik di Mindanao kurang mendalam. Dia hanya menyebutkan MNLF dan Abu Sayyaf sebagai kelompok perlawanan di wilayah selatan Filipina tersebut.
Padahal, bicara konflik Mindanao tak bisa tidak harus melibatkan pula unsur MILF (Front Pembebasan Islam Moro), yang juga gigih berjuang untuk kemerdekaan Mindanao. Namun tak sepatah kata pun diucapkan si jurnalis.
Hal ini perlu jadi perhatian redaksi TV One untuk membekali jurnalisnya dengan peta konflik berikut pemain-pemainnya, sebelum mereka dikirim ke lapangan, agar laporannya makin mendalam.
Dengan segala keterbatasannya, Zona Merah berhasil mencuri perhatian pemirsa di tengah gempuran berita tentang perseteruan cicak versus buaya saat ini.
Acara ini bisa menjadi program dokumenter alternatif, yang melaporkan langsung dari wilayah konflik yang tengah panas, tanpa harus menayangkan banjir darah dan letusan senjata. Itu bisa jadi bukti bahwa program berita dokumenter produk tv nasional tak kalah berkualitas dibandingkan tv asing.
Dan satu hal yang perlu dicatat, dari beberapa episode yang sudah tayang, jurnalis yang meliput adalah wanita. Ini juga bukti bahwa jurnalis wanita punya nyali meliput di wilayah konflik. Bukan hanya meliput hal yang remeh temeh!
Di beranda ada janda
duduk berdua dengan perjaka
mereka saling menggoda
tak peduli apa kata tetangga
yang penting suka ria
menjalin asmara
asyik masyuk dimabuk cinta
Suara tangis mengganggu kencan buta
anak si janda merengek minta dibelikan sepeda
si perjaka hanya bisa mengurut dada
dia menangkap satu pertanda
harus merogoh kocek, uang tak bersisa
pulang dari rumah janda dompet pun hampa
itulah pengorbanan demi merebut hati janda beranak dua
Di pengadilan negeri
Antasari diadili
Rani bersaksi
Wiliardi “bernyanyi”
“Nyanyian” Wiliardi dibantah para petinggi polisi
mereka kelabakan institusinya ditelanjangi
karena dituduh melakukan kriminalisasi
Bagaimana akhir persidangan ini?
tunggulah sampai palu hakim diketuk di pengadilan negeri
Banyak rekayasa
fitnah dianggap hal biasa
bila terdesak segera mengeluarkan bantahan
dengan ringannya bersumpah atas nama tuhan
Segalanya serba palsu
manusia sudah tak punya malu
tak lagi kenal tabu
hidupnya di jalur abu-abu
masa depan negara jadi kelabu

Anda pasti sudah pernah makan buah duku, dan melihat, baik secara langsung maupun melalui tayangan di tv, gajah sumatera. Tapi pernahkah Anda mendengar bunga cempaka telur dan melihat burung cendrawasih merah?
Flora dan fauna langka itu, yang hanya hidup di daerah tertentu, kini telah diabadikan dalam bentuk perangko. PT Pos Indonesia mensosialisasikannya dengan menerbitkan perangko seri Flora Fauna Identitas Provinsi.
Dimulai pada 2008, rangkaian penerbitan perangko tersebut dilakukan dalam tiga tahap. Tahap kedua pada tahun ini, yang menampilkan Provinsi Banten, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sumatera Selatan.

Flora dan fauna tersebut adalah cempaka telur dan gajah sumatera dari Lampung, kokoleceran dan badak jawa (Banten), bunga sedap malam dan bekisar (Jawa Timur), tenggaring dan kuau kerdil ( Kalimantan Tengah), anggrek hitam dan pesut mahakam (Kalimantan Timur), serta sirih dan kakap merah ( Kepulauan Riau).
Selanjutnya, cendana dan biawak komodo (Nusa Tenggara Timur), buah merah dan cendrawasih merah ( Papua Barat), eboni dan maleo (Sulawesi Tengah), anggrek serat dan anoa (Sulawesi Tenggara), serta duku dan ikan belida (Sumatera Selatan).
Perangko-perangko tersebut diterbitkan 5 November lalu, dengan nilai nominal masing-masing Rp 2.500.
Selain perangko, benda filateli lainnya yang diterbitkan adalah sampul hari pertama (SHP) senilai Rp 31.500 per set.
Masa jual perangko antara periode 5 November 2009-31 Desember 2012, sedangkan masa laku untuk pemerangkoan pada kurun 5 November 2009 – 31 Desember 2014.
Apa kabar, Syane?
masih ingatkah kau padaku?
lelaki yang kau tinggalkan
setelah kau manfaatkan
untuk menemani hari-hari sepimu
Apa kabar, Syane?
kau pernah mengisi hatiku
tapi kau tinggalkan aku
pergi bersama lelaki itu
yang mendapat lampu hijau untuk melamarmu
Apa kabar, Syane?
bahagiakah kau kini?
puaskah kau dengan pilihan hidupmu?
jangan kau sesali segala yang terjadi
hidupmu senang atau susah, aku tak peduli
kita jalani hidup apa adanya
jangan ada dusta apalagi saling menista!
Niatnya puasa
sudah tak makan sebelas jam lamanya
menunggu dua jam lagi terasa lama
tak tahan didera lapar dan dahaga
mau tidur sulit memejamkan mata
akhirnya menyerah, segera berbuka
nanti dilanjut pekan berikutnya
Ini musim berbagi posisi
di DPR berebut pimpinan komisi
di kabinet berganti menteri
yang bersedia koalisi dapat posisi
yang berkeras oposisi harus teguh hati
semuanya mengaku ingin mengabdi
tapi ujung-ujungnya mengincar kursi
bagaimana nasib demokrasi bila tak ada oposisi?